Yaslinur (Toko Buku Al-Amin)

31 Agustus 2009 at 06:15 (Kisah Pengusaha Sukses)

Bisnis toko buku dan toko swalayan milik Yaslinur, alumnus Fakultas Peternakan IPB, yang ada di Bogor, Bandung, Jakarta dan Lampung mungkin belum setenar dan sebesar toko buku Gramedia atau toko swalayan Yogya. Namun yang unik dan berbeda adalah upaya pria kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat pada tahun 1968 ini untuk mendapatkan modal ketika memulai usaha, yakni dengan konsep syariah.

Pemicunya adalah terhentinya bantuan biaya kuliah dari sang paman sebesar Rp 60 ribu per bulan. Lantas, Yas pun mencoba menyambung hidup mulai dari berdagang kaos kaki, menjadi penjaga masjid kampus IPB, berjualan buku di masjid, sampai memasok beras untuk warung nasi.

Kesulitan mengembangkan usaha karena kekurangan modal mendorong Yas membuat proposal untuk membuka toko buku dan busana muslim dengan sistem bagi hasil atau mudharabah. Dalam sistem bagi hasil ini satu pihak murni bertindak sebagai pemilik modal dan pihak lain menjadi pengelola, lalu hasil usaha dibagi sesuai dengan kesepakatan.

Proposal bisnis yang membutuhkan dana Rp 12 juta itu membahas soal bunga dan analisis kelayakan usaha ditinjau dari sisi keuangan, teknis dan sosial budaya. Sepuluh proposal itu dikirimkannya ke beberapa orang berduit di Jakarta dan Bogor. Sayang, sambutan yang diterimanya tak sesuai dengan harapan. Ia cuma berhasil mendapatkan dana pinjaman satu juta rupiah sehingga ditambah dengan modalnya sendiri menjadi Rp 1,46 juta.

Yas kemudian merubah taktik, sasaran proposal adalah penerbit buku Islam dan pengusaha busana muslim untuk mendapatkan pasokan barang dengan sistem konsinyasi. Usaha ini berhasil menarik satu penerbit dan satu pengusaha konveksi yang bersedia memasok barang, sisanya Yas harus membeli barang dengan sistem putus.

Akhirnya, Juni 1991 Yas mulai membangun toko berukuran 3×4 meter yang dikontraknya seharga Rp 1 Juta di Jl. Otista, Bogor. Toko yang dinamainya “Al-Amin” itu baru kedatangan pembeli setelah dua minggu dibuka, sampai akhirnya mulai menuai Rp 40 ribu per hari.

Tiga bulan kemuadian Yas mulai melebarkan sayap dengan membuka toko lain di Jakarta, Bandung dan Bogor. Omzetnya melonjak menjadi Rp 400 ribu per hari. Kesuksesannya banyak mendapatkan tawaran kerjasama dan bantuan modal. Berikutnya, Yas membuka toko swalayan yang secara khusus
dikembangkan di tingkat kecamatan dan ditujukan untuk membantu masyarakat miskin memperoleh barang dengan harga miring. Kini Yas memiliki tiga toko buku dan empat swalaan dengan total 120 karyawan dan omzet usahanya bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Untuk mengembangkan usahanya itu Yas mencari mitra bisnis dengan menawarkan konsep sirkah atau musarokah. Maksudnya, satu pihak sebagai pemilik modal, pihak lain bertindak sebagai pengelola, namun pengelola juga bisa ikut menanamkan modal dan sebaliknya. Lantas keuntungan usahanya dibagi berdasarkan persentase.

Sejak ditawarkan pada tahun 1997, Yas sudah berhasil mengajak lebih dari 700 orang menjadi anggota syirkah dengan penyertaan modal minimal Rp 100 ribu. Dan Andapun bisa meniru cara Yas untuk mencari modal usaha.

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Timothy Siddik (Zyrex)

31 Agustus 2009 at 06:15 (Kisah Pengusaha Sukses)

Timothy Siddik (Zyrex)Anda kenal komputer merek Zyrex? diantara membanjirnya komputer “jangkrik”, nama Zyrex terdengar seperti komputer branded macam IBM, Compaq-Hewllet Packard atau Acer. Tapi siapa sangka kalau Zyrex ternyata lahir dari Pengusaha lokal bernama Timothy Siddik. Sebelumnya, lulusan ilmu komputer dan matematika University of California itu selama tujuh tahun meniti karir di berbagai perusahaan Amerika Serikat. Terakhir, jabatan Vice President Business Development JTC Spacenet disandangnya.Ketika itu berbagai fasilitas dan penghasilan 50 ribu dolar AS per tahun ditingggalkannya demi impian membuka usaha sendiri di tanah air. Timothy memiliki usaha software komputer karena saat itu di tahun 1990-an di bidang Teknologi Informasi (TI) mulai berkembang. Di bawah bendera PT Bhinexcom Interdata yang didirikan dengan modal 10 juta dan tiga karyawan, pria kelahiran Medan Desember 1961 itu juga mengerjakan instalasi jaringan lokal dan jasa konsultasi. Perlahan-lahan, meski order pembuatan perangkat lunak tidak terlalu besar karena banyak perusahaan belum membutuhkan TI, bisnisnya semakin berkembang setelah mendapat kepercayaan sebagai dealer beberapa merek komputer.Namun, justru setelah mendapat kepercayaan sekitar tahun 1995 itulah Timothy menangkap peluang bisnis yang lebih cerah. Ia semakin sadar bahwa konsumen komputer di Indonesia banyak “dikadali”, dan cuma dijadikan tempat sampah. Teknologi dan perangkat keras komputer yang sudah ketinggalan zaman di negeri asalnya baru dimasukkan ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga di negara lain.

Lantas, Timothy mendirikan pabrik perakitan komputer di Taiwan yang industri TI-nya berkembang pesat. Pemilihan lokasi Taiwan bukan latah atau
gengsi-gensian, tapi karena faktor keterampilan tenaga kerja dan harga komponen yang lebih murah sehingga produksi komputer pun bisa lebih efisien. September 1996, pabrik bisa merakit 1000 unit komputer pribadi (PC) dan langsung habis terjual di Indonesia dalam tempo dua bulan. Pasalnya, saat itu Timothy memang menawarkan komputer dengan teknologi yang lebih maju ketimbang komputer yang beredar di pasaran lokal. Zyrex sudah mengusung processor Pentium 1 sementara PC yang ramai dijual di Indonesia masih tipe 486.

Meski praktek yang dilakukan Timothy tidak berbeda dengan yang dilakukan pedagang komputer Mangga Dua yakni sekedar merakit PC dengan sistem multisourcing, namun Timothy menawarkan banyak kelebihan kepada konsumennya. Sejak hari pertama sudah ada bagian customer service yang melayani purna jual dan keluhan konsumen. Disamping itu, Zyrex hanya menggunakan komponen kelas utama di dalam komputernya.

Dalam urusan komponen, Timothy berusaha menembus langsung produsennya, seperti Intel, Seagate, dan Microsoft. Untuk meraih kepercayaan dan hubungan langsung dengan pemain industri komputer kelas dunia itu, Timothy memaparkan bagaimana prospek pasar TI Indonesia yang besar. Pasokan komponen bukan dari tangan kedua itulah yang juga membuat komputer Zyrex unggul dengan teknologi paling mutakhir dan bisa memberikan harga yang lebih kompetitif dibandingkan komputer branded impor maupun komputer jangkrik lokal sekalipun. Ketika processor atau perangkat keras terbaru diluncurkan di negara asalnya, seperti Pentium 4 diperkenalkan di Amerika, Timothy sudah bisa meluncurkan barang yang sama dalam hitungan hari.

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Soleh Sukarno (Soto Bangkong Semarang)

31 Agustus 2009 at 06:03 (Kisah Pengusaha Sukses)

Soto BangkongSoleh Sukarno adalah pemilik jaringan restoran Soto Bangkong Semarang. Ia memulai perjalanan bisnisnya sebagai penjual soto keliling di penghujung tahun 1950. Ia berasal dari desa dan hanya sempat mengenyam sekolah sampai kelas dua sekolah rakyat (setingkat SD).Baru bekerja seminggu pada seorang penjual soto, Soleh sudah dipinjami angkring untuk berjualan soto secara mandiri. Sejak awal ia pun sudah mangkal di Bangkong, samping pos polisi di pojokan Jl. Brigjend Katamso, Semarang. Ketekunannya berjualan dan melayani pembeli dengan rasa cinta, akhirnya memberinya kesempatan untuk mulai membangun kios kecil berukuran 3×4 meter sekitar tahun 1957. Kios yang sampai sekarang masih berlokasi di Bangkong itu sudah berkembang pesat, sebagian bangunannya bahkan berlantai tiga. Jaringan Soto Bangkong sendiri sudah lebih dari 20 restoran.Berapa penghasilan Soleh ? Setoran pajaknya tahun 1997 bisa dijadikan patokan, setiap hari ia membayar pajak pembangunan kelas I Rp 150 ribu hanya untuk kota Semarang, Sedang pajak penghasilannnya sudah masuk kategori Rp 900 juta ke atas per tahun. Kecintaan itu juga menyebabkan Soleh masih menyimpan angkring dan barang-barang yang digunakannya ketika pertama kali berjualan. Soleh juga tidak hendak berpindah rumah yang dibelinya pertama kali dan sempat dijadikan agunan bank untuk dijadikan modal membuka cabang di Jl. Kampung Baris Semarang yang padat penduduk.

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Rahmat Sutiono (Taman Bermain Eselsindo)

31 Agustus 2009 at 05:42 (Kisah Pengusaha Sukses)

Rahmat Sutiono memang “keras kepala”. Walaupun pundi-pundi uang telah berhasil dia kumpulkan dari perusahaan distribusi oli miliknya, tak lantas menghapuskan obsesinya menjalankan bisnis taman bermain. Bahkan, sebagian keuntungan sebagai pengusaha penyalur minyak pelumas itu, ia benamkan untuk membangun areal taman hiburan. “Saya memang terobsesi membangun taman bermain,” akunya.

Entah apa yang menjadi latar belakang hasratnya menekuni bisnis taman bermain. Yang jelas, kini taman bermainnya tak kalah derasnya mengalirkan uang dibanding usahanya sebagai distributor oli yang telah lebih dulu dijalaninya. Namun, semuanya tak digapai dengan mudah. Rahmat merasakan betul jatuh bangun membangun taman bermain.

Awalnya, memang langsung menjanjikan. Bisnis taman bermain yang ia dirikan pada awal tahun 1980-an dibangun di Supermarket King’s, Jakarta, di bawah bendera PT Eselsindo. “Modalnya cukup besar,” ujarnya. Walupun enggan menyebutkan angka pastinya, belasan juta rupiah harus ia keluarkan untuk mendatangkan peralatan impor yang semuanya dijalankan oleh mesin. Ibarat mimpi, taman hiburan milik Rahmat yang praktis hanya memiliki pesaing taman hiburan kelas pasar malam ini, langsung melesat pertumbuhannya. Hanya dalam tempo kurang dari lima tahun saja, ia berhasil membangun 20 cabang taman bermain di beberapa mal. “Saya yang pertama kali mempopulerkan mainan dengan sistem koin,” akunya dengan bangga.
Ia memang membangun areal hiburan dengan peralatan bermain yang dijalankan dengan sistem koin. Usaha bisnis taman bermainnya tambah menggurita, tak lepas dari kerjasamanya dengan toko swalayan Golden Truly. Di toko swalayan milik Sudwikatmono itulah, taman bermain miliknya laris dikunjungi keluarga. Walaupun telah laris, segmen masyarakat bawah pun ia garap. Saban minggu ia mendapatkan order untuk “manggung” di pasar malam. “Untuk tambahan menutup modal,” jelasnya. Karena pesaingnya hanya mainan yang digerakkan dengan tangan, maka mesin bermainnya selalu diperebutkan pengunjung.

Rahmat mengira semuanya akan berjalan mulus. Sampai datanglah waktu yang naas buat dirinya. Grup Jaya membangun pusat taman bermain terbesar yakni Dunia Fantasi (Dufan). Pengunjung dari kelas menengah atas tersedot mengunjungi taman bermain milik Ciputra ini. “Saya bangkrut,” tuturnya. Obsesinya untuk membangun pusat taman bermain terbesar, lanjutnya, malah telah didahului dengan kehadiran Dufan. Namun, sifat “keras kepala” Rahmat jugalah yang membuat ia tetap kukuh menjalankan bisnis taman bermain, dan memulainya sekitar tahun 1996. Lagi-lagi Ia kembali jatuh, ketika huru-hara melanda Jakarta pada tahun 1998. Peralatan sarana bermain miliknya ikut hancur dijarah massa. Ia pun harus rela kehilangan mitra kerja yang menarik diri dari bisnis taman bermain.

Tak kapok, ia pun mencoba lagi. Pada tahun 1999, dengan modal dari bisnis oli dan pembayaran klaim asuransi, Rahmat kembali membangun usahanya dari awal. Dengan bendera Funworld Prima, ia menjadi pemilik satu-satunya
sarana bermain yang tetap mengandalkan mesin bermain dari koin. “Kami mendapat kesempatan buka di Mal Metropolitan, Bekasi,” ujar Rahmat. Areal bermain yang menghabiskan dana satu miliar rupiah lebih itu merupakan sebuah arena bermain seluas 4.000 m2. Kali ini ia menuai sukses. Arena bermain ini setiap bulan dikunjungi tak kurang dari 15.000 orang dan meraih pemasukan ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Sukses di Mal Metropolitan, order membuat arena bermain pun berdatangan. Kini, Funworld menguasai hampir semua arena bermain di mal-mal besar di Jakarta dan Bandung. Sebut saja Mal Pondok Indah, Plaza Atrium, Cempaka Mas, King Shopping Centre, Mal Taman Anggrek, sampai Bandung Supermal yang disebut-sebut sebagai pusat belanja termewah di Asia. Arena bermain yang didirikan Rahmat tak pernah sepi dari pengunjung. ”Pengunjung lumayan ramai. Apalagi kalau hari libur, bisa naik sampai 150%,” katanya.

Tak hanya di mal-mal, Rahmat juga menjalin kerja sama dengan sejumlah pengembang besar seperti Duta Pertiwi serta Pujiadi Prestige untuk membuka arena bermain di perumahan-perumahan mewah yang mereka bangun. Di antaranya Kota Wisata dan Kota Bunga. Bahkan, tahun lalu Funworld mengembangkan sayapnya ke kota Balikpapan. ”Dengan Sinar Mas, kami menggarap amusement park outdoor seluas dua hektare,” ujar Rahmat. Dengan memperkerjakan lebih dari 200 orang, arena bermain yang digeluti Rahmat boleh dibilang sukses. Ia layak dinobatkan sebagai Raja Taman Bermain. (Sumber: Kadin)

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Puspo Wardoyo (Ayam Bakar Wong Solo)

31 Agustus 2009 at 05:39 (Kisah Pengusaha Sukses)

Puspo Wardoyo (Ayam Bakar Wong Solo)Impian Puspo Wardoyo membuat “jarak” antara Solo-Medan lebih dekat dibanding Solo-Semarang terwujud sudah. Jarak di sini lebih tepat diartikan waktu tempuh dibanding pengertian fisik yang dihitung berdasarkan satuan kilometer antara dua titik kota. Impian itu sendiri terinpirasi oleh cerita seorang pedagang bakso yang sukses mengarungi hidup di Medan.

Ketika pria kelahiran 30 November 1957 itu tengah merintis usaha warung lesehan di Solo selepas mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil, suatu saat pedagang bakso asal Solo tersebut bertandang ke tempat Puspo. Dia bercerita bahwa peluang usaha warung makan di Medan sangat bagus. Pedagang bakso itu telah membuktikannya. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan bersih di akhir tahun 1990 itu sekitar Rp 300.000. Dari keuntungan berjualan bakso dengan gerobak sorong itulah teman Puspo ini bisa pulang menengok kampung halamannya di Solo setiap bulan. “Dengan uang, jarak antara Solo-Medan lebih dekat dibanding Solo-Semarang, ” kata Puspoyo menirukan ucapan temannya tadi. Wajar saja jika dengan pesawat terbang waktu tempuh antara Medan-Solo dengan berganti pesawat di Jakarta hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sementara dengan naik bis jarak antara Solo-Semarang ditempuh sekitar empat jam.

Cerita sukses temannya itu begitu membekas di benak Puspo. “Saya bertekad bulat akan merantau ke Medan, ” pikirnya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, apa boleh buat, warung makan yang termasuk perintis warung lesehan di kota pusat kebudayaan Jawa itu pun ia jual kepada temannya. Uang hasil penjualan yang tak seberapa itu ia manfaatkan untuk membeli tiket bus ke Jakarta. Mengapa Jakarta? “Karena dengan uang yang saya miliki, bekal saya belum cukup untuk merantau ke Medan, ” katanya.

Ketika tengah merantau di ibu kota itu, suatu hari Puspo membaca lowongan pekerjaan sebagai guru di sebuah perguruan bernama DR Wahidin di Bagan Siapiapi, Sumatera Utara. Apa boleh buat, demi mewujudkan cita-citanya, ia berusaha mengumpulkan modal dengan kembali menjadi guru. Bedanya, kali ini ia tidak lagi menjadi pegawai negeri seperti sebelumnya ketika menjadi staf pengajar mata pelajaran Pendidikan Seni di SMA Negeri Muntilan, Kabupaten Magelang. “Target saya cuma dua tahun menjadi guru lagi,” katanya. Di sinilah anak pasangan Sugiman-Suki ini ketemu dengan isteri pertamanya Rini Purwanti yang sama-sama menjadi tenaga pengajar di
sekolah tersebut.

Dua tahun menjadi guru ia berhasil mengumpulkan tabungan senilai Rp 2.400.000. Dengan uang inilah keinginannya menaklukkan kota Medan tak terbendung lagi. Uang tabungan itu sebagian ia gunakan untuk menyewa rumah dan membeli sebuah motor Vespa butut. Masih ada sisa Rp 700. 000 yang kemudian ia manfaatkan sebagai modal membangun warung kaki Iima di bilangan Polonia Medan. Disini ia menyewa lahan 4×4 meter persegi seharga Rp 1.000 per hari. Siapa sangka jika dari sebuah warung kecil ini kemudian melahirkan sebuah usaha jaringan rumah makan yang cukup kondang di seantero Medan. Impian untuk menaklukkan “jarak” Solo-Medan lebih dekat dibanding Solo-Semarang pun menjadi kenyataan.

Bukan itu saja, penilaian atas prestasi bisnis yang dirintis Puspo lebih jauh melewati impian yang ia tinggalkan sebelumnnya. Dari ibu kota Sumatera Utara ini nanti Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo (Wong Solo) melejit ke pentas bisnis nasional. Belakangan ini nama Wong Solo semakin berkibar-kibar setelah berhasil menaklukkan Jakarta setelah sebelumnva “mengapung” dari daerah pinggiran.

Dalam waktu relatif singkat kehadiran Wong Solo telah merengsek dan menanamkan tonggak-tonggak bisnisnya di pusat kota metropolis ini. Ekspansinya pun semakin tak tertahankan dengan memasuki berbagai kota besar di Indonesia. Fenomena Wong Solo mengundang decak kekaguman berbagai kalangan dari pejabat pemerintah, para pelaku bisnis hingga para pengamat. Hampir semua outletnya di Jakarta selalu sesak pengunjung, terutama di akhir pekan dan hari libur. Bahkan ketika bulan Ramadhan kemarin, semua outlet tersebut membatasi jumlah pengunjung saat berbuka puasa.

Skala usaha Wong Solo itu memang belum sekelas para konglomerat masa lalu yang dengan enteng menyebut angka aset, omset atau keuntungan per tahun yang triliunan rupiah. “usaha saya memang belum kelas triliunan seperti para konglomerat yang kaya utang itu,” paparnya. Kendati masih tergolong usaha menengah, namun kinerja wong Solo sangat solid dan tak punya beban utang. Ia memiliki pondasi kuat untuk terus berkembang.

Untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, ayah sembilan anak dari empat istri ini telah melewati rute perjalanan yang berlika-liku lengkap dengan segala tantangannya. Ada masa ketika di waktu-waktu awal merintis usaha di Medan ia nyaris patah semangat gara-gara selama berhari-hari tak pernah meraih untung. Hanya berjualan dua atau tiga ekor ayam bakar plus nasi, terkadang dalam satu hari tak seekor pun yang laku. Pernah pula seluruh dagangannya yang telah dimasak di rumah tumpah di tengah jalan karena jalanan licin sehabis hujan. “Apa boleh buat, saya terpaksa pulang dan memasak lagi”. katanya.

Istrinya yang tak sabar melihat lambannya usaha Puspo bahkan sempat memberi tahu ayahnya agar mempengaruhi Puspo supaya tak berjualan ayam bakar lagi. “Mertua saya bilang, kapan kamu akan tobat ?” katanya menirukan ucapan sang mertua. Tantangan terbesar mungkin saat ia menghadapi kenyatan satu cabang Wong Solo miliknya yang baru dibangun langsung dibongkar oleh Pemda medan. Pasalnya cabang ini dibangun tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan dinilai mengganggu kenyamanan warga.

Pada awal perantauannya ke Medan, Puspo wardoyo, sama sekali tak menyangka jika usaha warung ayam bakar “Wong Solo” akan berkembang seperi sekarang. Maklum, rumah makan yang dibukanya hanyalah sebuah warung berukuran sekitar 3×4 meter di dekat bandara Polonia, Medan. Setahun pertama dia hanya mampu menjual 3 ekor ayam per hari yang dibagi-bagi menjadi beberapa potong. Harga jual per potongnya Rp 4.500 plus sepiring nasi. Di tahun kedua, naik menjadi 10 ekor ayam per hari. Namun sekarang, 13 tahun kemudian, dia memiliki lebih dari 16 cabang tersebar di Medan, Banda Aceh, Padang, Solo, Denpasar, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Jakarta, Malang dan Yogyakarta.

Meskipun masih mengandalkan ayam bakar, namun menunya kini makin beragam hingga 100 jenis. Mulai dari berbagai jenis makanan yang berbahan baku ayam sampai bebek, berbagai jenis ikan dan sea food, sayur-sayuran, sambal, sampai tempe dan tahu. Tersedia pula berbagai jenis minuman ringan dan aneka juice. Salah satunya juice khas “Wong Solo” adalah Poligami Juice.

Dia mengatakan, ”Prinsip bisnis kami sesuai dengan ajaran Al Qur’an bahwa suatu pekerjaan haruslah dapat menyelamatkan diri dari siksa api neraka”. Sudah terbiasa bagi Wardoyo untuk menyisihkan 10 % dari keuntungannya untuk amal. Dia percaya, Tuhan akan memperkaya orang yang banyak beramal. Dengan tetap menghidupkan roh agama dalam bisnisnya, wardoyo tak segan-segan mengangkat “penasehat spiritual” Prof. Dr Syahrin Harahap, MA, Guru Besar IAIN Sumatra Utara. Maka jangan heran bila Anda kebetulan mampir di salah satu rumah makannya menyaksikan karyawannya sedang berkerumun di saat menjelang atau usai jam kerja. Mereka sedang melaksanakan ibadah “kultum” atau kuliah tujuh menit.

Promosi dari mulut ke mulut membuat warungnya makin terkenal. Terlebih ketika seorang wartawan daerah membuat tulisan tentang “Wong Solo”, makin ramai saja orang yang makan ke warungnya. Pernah suatu hari dia kewalahan memenuhi pesanan pelanggan. Di saat tiga ekor ayam jualannya habis, datang pembeli lain yang bersedia menunggu asalkan Wardoyo mau mencari ayam baru ke pasar. Dia pun memenuhi permintaan pelanggan tersebut dengan membeli tiga ekor ayam lagi. Namun datang lagi pelanggan lain yang juga bersedia menunggu Wardoyo mencari ayam ke pasar. “Seharian itu, hingga larut malam saya pontang panting ke pasar untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus berdatangan,” kata Wardoyo mengenang.

Bersamaan dengan bertambahnya pelanggan, dua tahun kemudian Wardoyo memperluas warungnya hingga layak disebut rumah makan. Jiwa seni Wardoyo nampak tergurat pada bentuk bangunan dan penampilannya yang cenderung “nyeleneh”. Dalam bentuk bangunan, misalnya, Wardoyo tak segan-segan mengeluarkan uang cukup besar untuk membayar seorang arsitek guna mewujudkan imajinasinya terhadap suatu bentuk bangunan.

Perpaduan seni dan entrepreneurship Wardoyo juga tertuang dalam pendekatan terhadap konsumen. ”Saya berusaha menghafal nama-nama semua pelanggan saya. Sehingga sewaktu mereka datang saya harus menyambut mereka dengan menyebut namanya,” papar Wardoyo. Inilah yang disebutnya sebagai “menjadikan pelanggan sebagai saudara”.

Seiring dengan berkembangnya “Wong Solo”, puspo wardoyo membuka kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menikmati nilai tambah Wong Solo melalui sistem waralaba. Perjanjian pemilikan waralaba ini diberikan kepada perorangan atau yang diberi kuasa, dan atau badan hukum dengan masa pengoperasian selama 10 tahun.

Hak tersebut mencakup penggunaan merek dagang “Wong Solo”, desain dan dekorasi rumah makan. Merek dan peralatan, tata letak, resep dan jenis makanan, sistem kontrol inventori, metode operasional, pembukuan dan akuntansi, serta pemasaran dan hak untuk menempati dan mengisi rumah makan “Wong Solo”.

Untuk waralaba tersebut, Wardoyo telah membuat standarisasi dalam hal rasa dan gerai (outlet). Jika seseorang membeli waralaba “Wong Solo” di Jakarta, dipastikan sama rasa dan penataan gerainya dengan “Wong Solo” Medan atau di tempat lain. Adapun kewajiban finansial pewaralaba adalah, pertama, membayar uang pendaftaran awal sebesar Rp 500.000. Kedua, membayar biaya pelayanan (royalty/service fee) bulanan berdasarkan persentase tertentu dari penjualan kotor sebesar 12 persen yang dapat dinegosiasikan. Sementara harga sebuah waralaba yang dijual “Wong Solo” terbagi beberapa tipe. Untuk tipe A Rp 700 juta, tipe B Rp 525 juta, tipe C Rp 350 juta, tipe D Rp 225 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun restoran, peralatan, praoperasi, waralaba fee selama 5 tahun, dan hak waralaba selama 10 tahun.

Setelah sukses membesarkan “Wong Solo”, apa harapan Puspo Wardoyo selanjutnya ? dengan sungguh-sungguh dia menyahut, ”Ingin terus bekerja keras, kaya raya, banyak istri, dan masuk surga.”

.

Tulisan Terkait :

Permalink 1 Komentar

Purdi E. Candra (Lembaga Bimbingan Tes Primagama)

31 Agustus 2009 at 05:28 (Kisah Pengusaha Sukses)

Purdi E. ChandraKisah sukses lembaga yang didirikan 10 Maret 1982 di kota pelajar Yogyakarta oleh H. Purdie E. Candra ini merupakan sebuah perjalanan panjang. Pria kelahiran Lampung, 9 September 1959 ini meninggalkan kuliah di UGM dan IKIP Karangmalang. Dengan modal Rp 300.000, dia mendirikan lembaga bimbingan tes Primagama. Sebuah bisnis potensial yang kala itu tak banyak dilirik orang. Ia sukses membuat Primagama beromzet lebih dari Rp 70 miliar per tahun, dengan 300 lebih cabang di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Hal ini menjadikan Primagama sebagai Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) terbesar di Indonesia.

Tak hanya itu. Ia mendirikan juga IMKI, warung sari Reja, Promarket, TK Kreatif Primagama, Amikom, Entrepreneur University serta Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta. Primagama group pun merambah bidang radio, penerbitan, jasa wisata dan masih banyak yang lain.

Untuk lembaga bimbingan test, awalnya hanya untuk siswa kelas III SLTA yang hendak masuk perguruan tinggi. Pertama kali hanya ada dua murid. Kiprah primagama makin santer setelah keluar UU No 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional. UU tersebut menyatakan bahwa pendidikan nasional merupakan tanggung jawab negara, keluarga dan masyarakat. Di sinilah Primagama memainkan peran. Dalam kurun waktu 1993 sampai 1997 jumlah cabang telah bertambah menjadi 84 kantor cabang pembantu (per tahun 5-6 kantor cabang bertambah). Hingga Maret 2004 tercatat tidak kurang dari 313 cabang di seluruh Indonesia.

Visi besar pria yang selalu tampil trendi ini, adalah membangun mega entrepreneur. Pengusaha menciptakan lapangan kerja itu biasa. Tapi kalau menciptakan banyak Pengusaha itu jarang,” tegasnya. Dengan banyak pelaku usaha baru, maka lapangan kerja yang tercipta juga makin banyak lagi, tambahnya.

Untuk mendukung visi dan obsesinya, Purdi membangun Entrepreneur University (EU). Di lembaga ini, ia memberikan bimbingan serta pencerahan sehingga diharapkan akan lahir kecerdasan entrepreneur, kecerdasan emosional dan spiritual, pada akhirnya berani mengambil keputusan untuk membuka usaha.” Karema maju mundurnya sebuah negara, tergantung dari banyaknya Pengusaha yang ada.” Katanya.

Cita-cita pria yang juga aktif di Kadin dan Hipmi ini saat mendirikan Primagama adalah ingin menciptakan lapangan kerja. Kini angan-angan itu sudah terwujud. Ada sekitar 2000 karyawan bergantung hidup di Primagama Group. Tapi bukan lantas puas sampai disitu. “ Setelah bisa menciptakan lapangan kerja, saya ingin menciptakan Pengusaha baru,” obsesinya. Dan untuk menjadi Pengusaha tidak perlu pintar dengan indeks prestasi tinggi dan punya banyak uang. Justru saat kita tidak punya apa-apa, adalah waktu yang tepat untuk memulai, ucapnya sambil menambahkan pakai ilmu street smart saja (cerdas di jalanan berkat praktek).

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sadi (Soto Ayam Ambengan)

31 Agustus 2009 at 05:15 (Kisah Pengusaha Sukses)

Logo Soto AmbenganPak sadi, yang kini memiliki tujuh rumah makan Soto Ayam Ambengan Pak Sadi (Asli), bisa menjadi contoh wirausahawan yang memulai bisnisnya dari nol. Pak sadi mengawalli usahanya sebagai pemikul angkring soto milik pamannya di Surabaya tahun 1960. datang dari sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur, Sadi hanya ingin mengadu nasib di kota nyaris tanpa “bekal”, karena ia hanya mengenyam sekolah sampai kelas 5 SD.Dua tahun memikul angkring keliling kampung di Surabaya, Sadi kemudian memberanikan diri berjualan sendiri dan memulainya dengan berdagang tahu tek-tek seharga Rp 5,- per porsi. Karena kurang laku, Sadi beralih berjualan soto ayam. Dan ternyata dagangan sotonya juga kurang laku, sehingga Sadi muda sempat kembali menekuni tugas sebagai kuli pikul angkring.

Lalu tahun 1971, pada suatu waktu datang tawaran untuk berjualan soto di depan asrama brimob Jl. Ambengan. Dibantu istrinya, dengan menggunakan gerobak yang diparkir di muka sebuah rumah, soto pak Sadi mulai ramai dikunjungi bukan cuma oleh penghuni asrama, tapi juga pegawai kantoran dan pemakai jalan.

Warungnya semula dinamai Soto Ayam cita Rasa, sebelum diubah menjadi Soto Ayam Ambengan. Sampai akhirnya, ia berhasil membeli rumah di jalan yang sama untuk dijadikan warung soto permanen. Sadi kemudian melebarkan sayap usahanya sampai ke Jakarta. Penggemar soto ayam berkuah kuning kental yang diisi soun, irisan telur dan poya (kerupuk udang dan bawang putih yang digiling menjadi bubuk) ternyata melimpah ruah.

Di awal pembukaan rumah makannya di Jakarta, jangan berharap kebagian soto selepas jam 12 siang. Di Surabaya, orang dari luar kota merasa belum sreg dan komplit sebelum mengunjungi Soto Ayam Ambengan Pak Sadi.

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Nurhayati Subakat (Shampoo Putri)

30 Agustus 2009 at 17:40 (Kisah Pengusaha Sukses)

Kalau Anda sempat melihat iklan kosmetik berlabel halal yang dibintangi oleh artis Marissa Haque atau Inneke Koesherawati, Anda pasti mengenal kosmetik dalam negeri yang bermerek “Wardah”. Siapa yang mengira, Nurhayati –pendiri PT Pusaka Tradisi Ibu (PTI) yang sebelumnya berkarir di sebuah perusahaan kosmetik asing Wella- memulai usaha itu hanya dengan membuat shampoo berlabel “Putri” yang diproduksi di rumah dan dipasarkan sendiri secara door to door ke salon-salon pada tahun 1985.

Usaha ibu tiga anak ini lambat laun bisa diterima pasar. Sedangkan idenya membuat kosmetik khusus ditujukan untuk komunitas Muslimah baru muncul sepuluh tahun kemudian. Ketika itu sebuah pondok pesantren menyatakan minatnya untuk mendistribusikan kosmetik putri tersebut. Nurhayati beralasan di tengah kebutuhan Muslimah untuk merias diri terselip juga kekhawatiran produk kosmetik yang beredar mengandung unsur yang diharamkan dalam syariah.

Alumnus farmasi ITB Bandung itu kemudian memilih nama Wardah yang berarti bunga mawar sebagai merek kosmetik barunya. Nama ini membawa kesuksesan dalam bisnisnya, dan kemudian lantas merek kedua “Zahra” diluncurkannya. Kali ini produknya dipasarkan dengan sistem Multi Level Marketing (MLM). Dan rencananya masih ada beberapa merek lagi yang akan diluncurkannya, seperti Fadhila, Muntaz dan Kamila.

Sudah tentu Nurhayai tidak perlu lagi menyambangi salon-salon untuk memasarkan produk kosmetiknya karena agen-agennya sudah tersebar di kota-kota di seluruh Indonesia. Dari kedua merek Wardah dan Zahra saja, PTI bisa mengantongi omzet sampai Rp 2 miliar per bulan. Produknya bukan lagi cuma sampo tapi mencakup perawatan kulit, perlengkapan make-up lengkap sampai produk untuk bayi.

Dua pabrik didirikannya di Cibodas dan Jatake, Tangerang dengan kapasitas terpasang dua ribu ton untuk membuat 300 item kosmetik. Karena mengusung label Islami, kelahiran Padang Panjang tahun 1950 ini mempunyai tanggung jawab menjaga kepercayaan ummat. Maka bahan-bahan baku yang sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri ditelitinya sendiri, meski sudah mengantongi sertifikat halal. Tampaknya Nurhayati ingin betul-betul menerapkan moto dagangnya, “Suci dan Aman”.

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

H. Suganda (Kerupuk SHD)

30 Agustus 2009 at 17:35 (Kisah Pengusaha Sukses)

H. Suganda (Kerupuk SHD)Hampir 20 tahun lamanya menekuni bisnis kerupuk, dan selama itu pula pengusaha yang satu ini berhasil menghimpun laba dan membesarkan usahanya.Kerupuk memang makanan yang berbobot enteng. Tapi, potensi usahanya jangan dianggap enteng, dan H. Suganda sudah membuktikannya. Bisnis kerupuk yang ditekuninya dari nol sejak tahun 1982, menghantarkannya sebagai pengusaha yang sukses merajai pasar kerupuk di Jakarta. Faktanya, di seantero Jakarta, kerupuk buatan Suganda yang diberi merek SHD pada kalengnya, sudah sangat terkenal. Bahkan saking terkenalnya, kemudian banyak pengusaha kerupuk lain yang ikut-ikutan mencantumkan merek “SHD” pada kaleng kerupuknya. Mungkin ingin mencantol sukses kerupuk Suganda di pasar. Tapi bagi Suganda, penjiplakan merek itu bukan merupakan persoalan serius. Sebab, pemasaran kerupuknya toh tetap berjalan lancar.

Suganda mengawali usaha kerupuknya dengan modal pas-pasan plus peralatan sederhana pemberian orang tuanya. Untuk tempat produksi yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal, diperoleh dengan cara mengontrak. Produksi awal, menghabiskan setengah kuintal tepung tapioka, yang dicampur sedikit dengan terigu. Penjualannya yang disebar melalui para pedagang, ternyata berjalan lancar. Setiap keuntungan yang diperoleh, dikumpulkan. Dari situ Suganda membeli berbagai barang seperti peralatan pabrik, sampai tanah dan bangunan.

Suganda berprinsip, daripada menabung lebih baik diwujudkan dalam bentuk barang. Karena itulah, kemudian dia bisa memiliki rumah dan sebuah pabrik kerupuk dengan peralatan lengkap, serta tempat pengeringan yang cukup luas di Jakarta. Sekarang ini kerupuk SHD disebar oleh sekitar 40 pedagang ke wilayah Pasar Minggu, Mampang, bahkan sampai ke daerah Kota. Tak heran jika krupuk SHD dijumpai di mana-mana. Produksinya rata-rata menghabiskan 4 kuintal tepung per hari. Satu kuintal tepung menghasilkan sekitar 7.000 biji krupuk. Bahan baku krupuk putih adalah tepung tapioka murni. Untuk membuat krupuk coklat/opak, setiap 50 kg tepung tapioka ditambah 7 kg tepung terigu.

Dalam mengoperasikan kegiatan produksinya, Suganda memperkerjakan 20 karyawan, yang ditampung di sebuah bangunan samping rumahnya. Namun, sampai sekarang Suganda masih mengontrol secara ketat bumbu adonan, sehingga kualitas rasa kerupuknya selalu terjaga.

Untuk pemasaran kerupuknya, Suganda menyediakan gerobak dan kaleng, yang bisa digunakan oleh pedagang. Jadi, para pedagang yang mau menjual, tinggal mengambil kerupuk mentah dan minyak, lalu menggoreng sendiri. Seorang pedagang, rata-rata membawa sekitar 100 kaleng krupuk, untuk dititipkan di warung-warung. Kepada pedagang, Suganda menjual kerupuknya Rp 150. Sedangkan para pedagang, bebas menetapkan harga jualnya ke warung atau toko-toko.

Meskipun sudah bisa melenggang sendiri sebagai pengusaha kerupuk yang sukses, namun Suganda tetap peduli pada sesama pengusaha kerupuk di Jakarta. Kebetulan mereka kebanyakan dari Ciamis, Jawa Barat, daerah asal
Suganda. Salah satu bentuk kepedulian itu diwujudkan dengan inisiatif Suganda untuk membentuk paguyuban pengrajin krupuk wilayah Jakarta Selatan, sekaligus memimpinnya sebagai ketua.

Salah satu upaya yang sekarang tengah dilakukan paguyuban, adalah menyeragamkan harga. “Jangan sampai terjadi persaingan tak sehat, dengan cara saling banting harga,” kata Suganda.

Kunci Sukses H. SUGANDA: (1) Tekun menjalankan usaha dari nol, (2) Sejak awal sudah mencantumkan merk, (3) Memanfaatkan keuntungan untuk pembelian asset berharga, (4) Mengontrol mutu produksi secara langsung.

Kontak H. SUGANDA :
Jl. Batumerah I RT 004/02 No.11
Kalibata, Jakarta Selatan
Fax. (021) 7974565

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

H. Setyotomo (Ahad-Net)

30 Agustus 2009 at 17:31 (Kisah Pengusaha Sukses)

Ahad Net InternasionalDengan pendekatan syariah, jaringan bisnis Ahad-Net kian menggurita. Tahun pertama, omzet penjualannya masih pada kisaran ratusan juta, memasuki tahun kelima naik berlipat ganda hingga mencapai puluhan miliar rupiah.Ahad-Net lahir pada tanggal 1 Januari 1996 bertepatan 10 Syaban 1416 H di Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Setelah dilakukan qiyamul lail (shalat malam), Ahad-Net resmi diluncurkan sebagai perusahaan multi level marketing (MLM) syariah pertama di tanah air.

Dengan modal awal ratusan juta rupiah, H. Setyotomo bersama H. Muhammad Hidayat, K.H. Ma’ruf Amin, H. Atang Kustandi, H. Abdul Halim, dan H. Danny Ramdhani merintis usaha ini dengan pendekatan syariah.

Usaha ini dirancang sebagai bisnis silaturrahim (MLM) dengan jaringan (Net) umat muslim yang berwawasan luas. Nama Ahad sendiri diambil dari singkatan Al-quran, Hadits, Akhirat, dan Dunia. Ini memang bisnis yang tidak sekadar mengejar dunia semata, tetapi juga akhirat. Siapa saja bisa bergabung sebagai mitra salur dan jika dilakukan secara istiqomah, Insya Allah peluang memperoleh pendapatan yang besar akan bisa diraih, ungkap H. Setyotomo, Komisaris Ahad-Net.

Cara kerja perusahaan ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan MLM pada umumnya, yakni dengan melakukan pemasaran produk-produk tertentu dengan sistem berjenjang. Artinya setiap mitra/distributor memperoleh manfaat dengan mengembangkan jaringan (net) seluas-luasnya untuk memperoleh pendapatan yang dihitung berdasarkan keaktifan jaringannya.

Semua penghargaan pada anggota diberikan berdasarkan kemampuan anggota memperluas jaringan dan besarnya nilai penjualan tiap bulan. Sebagai MLM syariah, Ahad-Net kental sekali dengan nuansa agama Islam. Semua produk yang diperdagangkan yang sebagian besar berupa barang-barang kebutuhan sehari-hari, tentu dijamin halal secara fisik dan tidak bertentangan dengan ketentuan normatifnya. Karenanya jangan heran, kalau setiap produk yang diperdagangkan selalu tertulis kata-kata halal.

Begitu pula dalam merekrut anggota, sering kali dilakukan melalui perkumpulan majlis taklim, forum kajian keagamaan, serta kegiatan silaturahim lainnya. Dalam memberikan hadiah atau reward bagi anggota yang berprestasi, juga kental dengan nuansa agama, seperti umrah dan ibadah haji ke tanah suci.

Selain itu, dalam merekrut anggota, tak ada unsur pemaksaan, bahkan jika dalam kurun waktu tertentu calon anggota merasa tidak cocok, bisa ditarik kembali. “Ini sesuai dengan ajaran syariah Islam, termasuk dalam jual beli, di mana harus rela sama rela,” ujarnya.

.

Tulisan Terkait :

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »