Perkenalan Fauwaz dengan dunia entrepreneur dimulai saat ia bergabung dengan Persaudaraan Pengusaha Muslim (PPM), yang didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar, yang lebih dikenal dengan Aa Gym. Disanalah semangat dan prinsip-prinsip Aa Gym menginspirasinya untuk berwirausaha. “Ada satu hal yang dikatakan Aa yang selalu saya ingat karena kebetulan itu juga merupakan prinsip hidup saya, bahwa kunci sukses dalam usaha adalah kejujuran dan keikhlasan.”
Berbekal kejujuran dan keikhlasan, Fauwaz mulai berwirausaha. Title Master
dan profesinya sebagai dosen tak menghambatnya berjualan jas bekas hasil renovasinya sendiri, jual beli monitor bekas, sampai jualan di emperan lapangan Gasibu Bandung setiap hari Minggu. Semua itu dia lakukan di sela-sela kesibukannya sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi swasta di Bandung. “Saya tidak pernah malu melakukan itu semua, selama yang saya lakukan itu halal,” ujar pria asal Padang ini. Fauwaz mulai berbisnis sepatu di akhir tahun 2002 ketika melihat iklan di yellow pages yang menawarkan sepatu dengan harga grosir tapi bisa dibeli satuan. Harganya sekitar Rp 95-Rp 100 ribu per pasang, sedangkan harga toko Rp 200 ribu. Lalu dia membeli beberapa pasang dan menitipkannya di toko. “ Saat itu usaha jual beli sepatu cukup bagus. Tapi dasar saya orang yang suka barang bagus, saya ingin menjual sepatu berkualitas tinggi. Jadi saya putuskan untuk memproduksi sendiri sesuai desain yang saya buat,” paparnya.
Mulailah Fauwaz memproduksi sepatu dengan merek R. Badaso dan menyusul S. Van Decka pada tahun 2002. Dipilihnya merek tersebut karena melihat kebanyakan sepatu terkenal menggunakan nama orang sebagai merek. Padahal R. Badaso dan S. Van Decka bukan nama orang. R itu singkatan dari “Ranca” , artinya bagus dan Badaso artinya puas. Sedangkan S singkatan dari “silat” dan Van Decka itu pelesetan dari kata “pendekar”. Untuk bagian produksi, Fauwaz menyerahkannya pada orang lain. Ia hanya mendesain dan memilih bahan. Awalnya semuanya dilakukan sendiri, tapi sekarang sudah ada lima orang yang membantunya dalam pengepakan, pendistribusian dan pembukuan.
Awalnya, kualitas sepatu yang diproduksi tidak sebagus sekarang. Sepatu berkualitas tinggi yang dihasilkan saat ini merupakan hasil riset yang ia lakukan selama dua tahun terakhir. Riset dan inovasi dilakukannya tanpa henti, karena itu salah satu cara untuk bertahan di bisnis ini. “ Setiap hari model baru muncul, kalau kita tidak cepat tanggap, kita akan ketinggalan,” tegas ayah dua orang anak ini.
R. Badaso hanya dipasarkan di Bandung, sedangkan S. Vandecka rencananya akan dipasarkan ke seluruh Indonesia dengan sistem direct selling lewat perusahaan distribusi temannya. Tapi jika gagal, S. Van Decka akan dimasukkan ke Carrefour dan beberapa supermarket lainnya. Fauwaz memilih tidak membuka counter sendiri karena akan menghambat perluasan pemasaran. Selain itu Fauwaz sangat menekankan pentingnya positioning dengan cara mematok harga lumayan tinggi, sekitar Rp 250 ribu per pasang, tapi tentu saja dengan kualitas yang sesuai dengan harga yang ditawarkan.
Kini dengan omzet 60 sampai 70 juta per bulan, R. Badaso mulai mengukuhkan diri sebagai salah satu merek sepatu pria yang berkualitas, dan terus mencari inovasi baru. Selain sepatu pria, Fauwaz pun sedang mengembangkan sepatu wanita, dan ada beberapa yang sudah diproduksi. Rencana Fauwaz ke depan adalah membangun sistem yang memungkinkan dia tidak harus mengurus usahanya itu secara langsung.” Supaya bisa menekuni usaha lain,” katanya. Benar saja, usaha elektronik pun kini sedang dijajakinya.
Sarannya, jangan pernah ragu untuk memulai usaha, modal utama bukan uang, tapi kepiawaian dalam mencari peluang dan melakukan inovasi. Fauwaz mengaku tidak menyesal telah melepaskan statusnya sebagai dosen, bahkan melepaskan kesempatan meraih gelar Doktor dari salah satu perguruan tinggi di Malaysia. “Dua tahun lalu saya pernah bermimpi berpenghasilan Rp 5 juta per bulan, waktu itu hanya mimpi, bahkan istri saya tidak menanggapi saking mustahilnya. Kini penghasilan saya jauh di atas mimpi itu. Entrepreneur adalah pekerjaan dengan penghasilan tak terbatas, jadi saya saja tidak menyesal,” paparnya.
.
Tulisan Terkait :
- Abdul Rahman (Detik.Com)
- Anas Ridwan (Boogie)
- Dahlan Iskan (Koran Jawa Pos)
- DR. H. Rahmat Shah (Unitwin Indonesia)
- Eddy Sutanto (Daily Bread)
- H. Akbar Bambang Sarwono (Has Salon Mobil)
- H. Endang (Kue Kering Selera)
- H. Ikrom (Keripik Tempe Abadi)
- H. Reza Malik (Roti Riz-Qy)
- H. Setyotomo (Ahad-Net)
- H. Suganda (Kerupuk SHD)
- Nurhayati Subakat (Shampoo Putri)
- Purdi E. Candra (Lembaga Bimbingan Tes Primagama)
- Puspo Wardoyo (Ayam Bakar Wong Solo)
- Rahmat Sutiono (Taman Bermain Eselsindo)
- Sadi (Soto Ayam Ambengan)
- Soleh Sukarno (Soto Bangkong Semarang)
- Timothy Siddik (Zyrex)
- Yaslinur (Toko Buku Al-Amin)
