Sebagian besar dari kita boleh jadi tidak tahu siapa H. Akbar Bambang Sarwono. Wajar saja, karena memang nama lengkapnya tidak sepopuler nama bisnisnya. Tapi kalau Anda pemilik mobil di Jakarta, apalagi mobil kategori menengah atas, pasti kenal dengan nama Has Salon Mobil, pelopor salon mobil di Indonesia.Mantan makelar yang sudah menggeluti bisnis percaloan sejak umur 16 tahun itu memulai bisnis salonnya tahun 1986 dari garasi mobil di rumahnya di bilangan Pluit, Jakarta Utara. Boleh jadi Has memetik ide membuka salon mobil ketika melihat banyaknya kendaraan mentereng berseliweran di Jakarta dan membutuhkan sentuhan agar tetap tampil kinclong. Sadar usahanya sebagai sesuatu yang baru, sebuah iklan dipasangnya di Koran Pos Kota. Hasilnya? Sehari setelah iklan terbit pelanggan mulai berdatangan.
Dengan bekerja sendirian di tahap awal bisnisnya itu, Has memperkenalkan jasa membersihkan kaca mobil. Secara bertahap, lalu ada layanan komplit untuk mendandani interior dan eksterior mobil agar cat yang kusam menjadi betul-betul mengkilap, bagian dalam mobil bersih dan wanginya seperti layaknya mobil baru keluar dari showroom.
Setelah salonnya mulai ramai pelanggan, Has memindahkan usahanya ke Radio Dalam yang menjadi jalan akses satu-satunya pada saat itu ke kawasan elit Pondok Indah. Di sini Has Salon Mobil semakin dikenal banyak kalangan atas pengendara mobil-mobil mewah yang menjadi target pasar yang sedari awal menjadi sasaran Has karena mereka tak memiliki waktu dan kemampuan merawat mobil tapi tuntutannya tinggi.
Sukses salon Has kemudian juga menjadi daya tarik pesaing untuk membuka usaha sejenis di lokasi yang sama, termasuk mantan karyawannya yang kemudian berusaha sendiri. Tapi Has tidak ambil peduli meski di Jl. Radio Dalam ada lebih dari 15 usaha sejenis. Has punya alasan, ia mengetahui persis keunggulan pesaingnya.
Selain itu Has merasa lebih mengetahui seluk beluk mobil dan memiliki kemampuan untuk meracik bahan-bahan pembersih mobil yang seluruhnya impor. Karena itu untuk mengasah pengetahuan dan ketrampilannya, Has rajin menyantap buku dan majalah otomotif, serta manyambangi pameran-pameran otomotif dan melakukan studi banding ke salon-salon mobil di luar negeri. Segala perkembangan otomotif paling mutakhir di dalam dan luar negeri bisa diketahuinya lebih dulu ketimbang pesaingnya. Bahkan sebelum kebijakan impor mobil dibuka, Has sudah menyambangi Cadillac House untuk mempelajari teknik salon mobil di negeri Paman Sam.
Tarif salon mobil Has memang lebih mahal dibandingkan salon-salon mobil lain. Untuk paket pembersihan kaca, bodi dan interior paling murah Rp 500 ribu, selain ada juga jasa bersih-bersih yang diberikan secara ketengan. Untuk meningkatkan layanan dan megikat pelanggan, Has menjual kartu diskon yang berlaku setahun dan bisa digunakan untuk mobil yang berbeda. Pemegang kartu diskon sebesar 30 % ini sudah lebih dari 8.000 anggota.
Alhasil, dengan asumsi setiap anggota membersihkan mobilnya dua kali setahun, Has bisa mencapai omzet setidaknya Rp 8 miliar per tahun. Belum lagi pemasukannya dari menjual kaca film dan aneka parfum yang semerbak wanginya menebarkan aroma mobil baru. Kini Has Salon Mobil sudah berdiri di empat cabang, yakni dua di Radio Dalam, Cilandak dan Kelapa Gading.
Meski tidak tamat sekolah dasar, pemilik Has termasuk otodidak yang bisa dengan cepat menguasai ilmu dan ketrampilan secara mandiri. Bayangkan saja, kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1941 itu menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris, serta Cina dalam tiga dialek. Konon, keahlian multi bahasa itu berkat pergaulannya dengan kalangan the high yang menjadi langgannya. Karena itu pula, Has juga sering menerima panggilan memoles kapal pesiar dan pesawat terbang milik para konglomerat.
.
Tulisan Terkait :
- Abdul Rahman (Detik.Com)
- Anas Ridwan (Boogie)
- Dahlan Iskan (Koran Jawa Pos)
- DR. H. Rahmat Shah (Unitwin Indonesia)
- Eddy Sutanto (Daily Bread)
- Fauwaz Fauzan EI M, ST, MT (Sepatu R. Badaso & S. Van Decka)
- H. Endang (Kue Kering Selera)
- H. Ikrom (Keripik Tempe Abadi)
- H. Reza Malik (Roti Riz-Qy)
- H. Setyotomo (Ahad-Net)
- H. Suganda (Kerupuk SHD)
- Nurhayati Subakat (Shampoo Putri)
- Purdi E. Candra (Lembaga Bimbingan Tes Primagama)
- Puspo Wardoyo (Ayam Bakar Wong Solo)
- Rahmat Sutiono (Taman Bermain Eselsindo)
- Sadi (Soto Ayam Ambengan)
- Soleh Sukarno (Soto Bangkong Semarang)
- Timothy Siddik (Zyrex)
- Yaslinur (Toko Buku Al-Amin)

Gile kakek gw terkenal juga ya…. I love you full kek
saya salonkan mobil saya BMW 520 …. dengan alasan tidak ada waktu, banyak pelanggan, mobil saya di kerjakan seadanya, masih kotor, setelah sampai rumah kita coba usap dengan kaen dan busa, ternyata masih bisa dibersihkan, karpetpun yang kita harapkan bisa bersih dari noda juga dikerjakan seadanya. Padahal saya percayakan Has karena sudah mempunyai reputasi yang bagus, ternyata masih mengecewakan. Paket 640 ribu kami bayar 850 ribu dengan alasan ada extra kerja, ternyata hasilnya sangat mengecewakan, saya berharap bapak mengevaluasi kerja anak buahnya, agar tdk ada alasan waktu mepet dan tidak ada jumlah pekerja yang cukup untuk melayani pelanggan.
Mohon perhatiannya, tgl 2 januari kami disuruh untuk kembali lagi. Dengan alasan tgl31 desember ini banyak pelanggan shg hasilnya tidak memuaskan. Apakah hal ini harus terjadi pada has salon yang menurut saya profesional.
Ada2 saja Pak.. kalau mau menurunkan prestasi salon jngan gitu donk.. bersaing secara sehat… saya langganan dari jaman mobil saya masih Expass, sampai skrng saya pakai BMW 520 slalu percayakan kepada HAS… dan hasilnya tidak pernah kurang suatu apapun, harga dan kualitas terjamin
knpa bapak komentar disini ? tidak mengeluh ke surat kabar ?atau hanya HOAX saja ?