Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Kisah Pengusaha Sukses’ Category

Pengalaman akan membuat kita lebih kuat dalam melakukan sebuah usaha. Maksudnya, dengan ilmu yang dimiliki, sebuah usaha akan berjalan dengan lebih mudah. Hal itu diungkapkan Rizal Zainuddin yang menyarankan agar bekerja di bidang ilmu yang akan dijadikan sebuah usaha.

“Dengan bekal dan ilmu yang ada, tentunya kita bisa lebih mengetahui apa saja yang akan dilakukan ketika menjalankan sebuah bisnis,” ujar pengusaha muda asal Jakarta ini.

Kondisi itu memang dialami sendiri oleh Rizal. Ia yang tinggal di Australia untuk merajut jenjang pendidikan ini mulai terjun ke dunia yang ingin ditekuninya sejak masih sekolah. Di saat kuliah, ia coba-coba untuk terjun di dunia broadcast. Rupanya, dari coba-coba inilah ia menemukan jawaban dari apa usaha yang bakal dijalankannya usai lulus sekolah.

Rizal pun mencoba mengasah kemampuan broadcastnya dengan berbagai cara seperti membuat film pendek, opening bumper, sampai membuat video klip. Usai kuliah, ia pun merasa memiliki cukup pengalaman untuk melanjutkan karirnya. Namun, ia belum memilih untuk membuka usaha sendiri.

Di tahun 2002, Rizal kembali mencari pengalaman dengan bekerja di bidang yang ingin digelutinya. Lelaki kelahiran 1980 ini memulainya dengan merambah Event Organizer, Production House hingga masuk di produksi acara televisi. Setelah beberapa lama “mencuri” ilmu dari pekerjaaannya ia pun memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Rizal pun membuka usaha sendiri yang bergerak di bidang production house. Pekerjaan terakhirnya di televisi pun ia tinggalkan untuk fokus ke usaha barunya. Awal usaha memang tak selalu berjalan mulus, meski pengalaman yang dimiliki sudah ada, tetapi hambatan selalu saja datang.

“Bahkan saya sempat terjatuh dalam berbisnis, tapi dengan bekal yang dimiliki membuat saya bisa menghadapi tantangan tersebut dan kembali bangkit untuk melanjutkan usaha,” paparnya.

Kini usaha production house yang berada di bilangan Rawamangun, Jakarta ini sudah mulai berjalan dengan lancar. Tak sia-sia Rizal merintisnya karena dari bidang inilah ia bisa mendapatkan ilmu dalam menjalankan bisnis.

Selain itu, Rizal pun kini mulai tertarik dengan Mobile Media. Teknologi terbaru ini pun kini sedang dipelajarinya. Ia pun bekerja di perusahaan bernama Snoop. Sambil berenang minum air, ia bekerja sekaligus mendapat ilmu baru untuk kembali menjalankan bisnis.

“Yang terpenting dalam bisnis adalah tanpa adanya paksaan dari orang lain, dan datang dari diri sendiri,” katanya.

Read Full Post »

Sabar sepertinya menjadi salah satu kunci dalam menggapai kesuksesan di dunia bisnis. Hal itu dibuktikan oleh Sweeta Bob Gurbani yang dengan tekun menjalankan usahanya, kendati beberapa cobaan menghampirinya.

Perempuan asal India ini memang harus terjun di dunia bisnis di usia 17 tahun. Di usia itu, ia sudah menikah dengan sang suami. Tak ingin berdiam diri, Sweeta pun ikut membantu usaha suaminya yang memiliki usaha tekstil yang kala itu cukup terkenal yaitu Kisstex Taylor.

“Di taylor suami, banyak artis yang membuat pakaian, karena kami memang menjaga kualitas,” ujarnya mengenang.

Namun, bukan berarti ia juga tak ingin hanya mengikuti jejak kesuksesan suami. Sweeta berniat mandiri dan membuka usaha baru. Setelah dua tahun belajar dari perusahaan taylornya, di tahun 1976 ia membuka butik. Ketika itu, ia menjadi salah satu pelopor butik di Kota Kembang.

“Barangnya saya dapatkan dari Singapore dan Hongkong,” jelasnya.

Waktu itu, Kings jadi tempat ia membuka usahanya. Sweets Boutique yang dikelolanya cukup punya nama. Terbukti, banyak artis terkenal pada masa itu yang berbelanja di butiknya. Sayang, usaha butik harus ia hentikan di tahun 1978. Alasannya, barang dari China sudah banyak masuk.

“Banyak tempat yang menjual berbagai produk dari China yang harganya jauh lebih murah,” tambah ibu tiga anak ini.

Tetapi, ia tak perlu larut dalam bisnisnya yang harus berhenti. Ia kembali membuka usaha baru. Kali ini, gift seperti kartu ucapan selamat dan berbagai aksesoris hadiah jadi pilihannya. Selain itu ia juga menyediakan sepatu, parfum, tas serta produk lainnya. Saat itu juga ia mulai merintis usaha di bidang poster.

Hingga tahun 1989, bencana menimpa bisnisnya. Ketika itu, Sweeta baru pindah lokasi usahanya, walaupun masih sama di Kings. Namun, kondisi itu membuatnya belum sempat untuk mengasuransikan tempat usahanya. Dan di tanggal 17 Agustus 1989, Kings pun ludes dilalap si jago merah. Semua barang dagangan miliknya pun hilang tak bersisa.

“Tentu saja sangat sedih, saya merintis usaha itu dari nol, namun setelah semua orang mengenalnya, malah habis tak bersisa,” kenangnya.

Ia pun sempat terpukul dan kebingungan untuk memilih usaha baru. Hingga di bulan Oktober 1989, ia ditawari membuka toko di jalan Braga. Saat itu ia mulai fokus dengan usaha poster dan gift serta kartu. Ia kembali menggunakan nama Black Cat sebagai brand usahanya.

“Saya menjadi agen untuk beberapa produk dari berbagai negara seperti Swedia, Holland, Jepang dan California,” jelasnya.

Hingga di tahun 2000, ia merasa jalan Braga sudah tak tepat sasaran. Karena fungsinya sudah berubah dengan banyaknya tempat hiburan malam. Ia pun memutuskan untuk meneruskan Black Cat di rumahnya di bilangan Hegar Manah. Selain itu, ia pun sengaja mengirim tiga anaknya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah sekaligus membuka cabang di Ibu Kota.

Sweeta pun cukup disibukkan dengan jadwalnya yang harus bolak-balik Bandung – Jakarta untuk mengurus dua tempat usahanya. Rupanya, kesabaran memang bisa memberikan hasil maksimal jika terus menekuninya. Bahkan kini ia memindahkan kembali lokasi usahanya ke tempat yang lebih strategis di bilangan Setia Budhi.

“Selain harus fokus dan sabar, kami juga tak pernah menganggap konsumen sebagai orang lain, tapi jadikanlah mereka sebagai sahabat, sehingga mereka bisa lebih percaya,” tambah perempuan yang menguasai lima bahasa ini.

Bahkan, ia dan suaminya pun bisa membuat bisnis yang lain karena telah menciptakan frame poster tanpa sambungan yang sudah menjadi trademark dari Black Cat.

Read Full Post »

Jatuh bangun saat memulai sebuah usaha terkadang hinggap pada para pengusaha baru. Namun, janganlah menjadikan hal itu sebagai batu penghalang, justru kejadian tersebut harus diambil hikmahnya untuk menjadi pelajaran dalam memulai bisnis baru.

Hal itu diutarakan pengusaha asal Banda Aceh, Anas Zulham. Ia mengakui, beberapa kejadian yang membuat usahanya gulung tikar pernah dirasakannya. Tetapi, keinginan yang kuat untuk menjadi pengusaha mandiri membuatnya tetap tegar dan kembali bangun untuk menyusun rencana bisnis yang akan digeluti lagi.

Semenjak kuliah, Anas memang sudah memutuskan masa depannya untuk menjadi pengusaha. Ia pun mulai merintis dengan bisnis event organizer. Usai kuliah usaha EO ia tinggalkan karena harus pulang kampung ke Aceh. Nah, perjalanan karirnya dimulai disini.

Anas sempat membuka usaha dengan berjualan bakso. Sayangnya, usaha itu hanya berjalan sekitar satu tahun. Anas kembali mencari bisnis baru, ia mulai mendalami bisnis kontraktor. Selain itu, ia pun membuka café di kota Medan, lagi-lagi usaha di bidang makanan ini kembali bangkrut. Tetapi kontraktor tetap ia jalankan.

Sambil menggeluti kontraktor, Anas kembali membuka usaha lainnya. Kali ini ia memilih usaha di bidang ISP (Internet Service Provider), tapi bisnisnya ini kembali kandas dan harus ditutup. Namun, Anas rupanya belum menyerah untuk membuka lapak baru. Ia pun mencoba usaha impor semen dari Malaysia, lagi-lagi bisnisnya tak bertahan lama dan harus gulung tikar kembali.

“Dari kegagalan–kegagalan itulah saya belajar membuka usaha baru lainnya, dan dengan pengalaman yang ada akhirnya saya bisa eksis menjalankan beberapa usaha,” jelas Anas.

Setelah itu, Anas mulai membuka usaha di bidang travel. Usaha inilah yang membuatnya maju dan terus berkembang. Menurutnya, travel merupakan usaha yang sangat fleksible. Kendati demikian, tetap harus memiliki skill dan kemampuan dalam mengelola dan mengembangkannya.

“Kita tetap harus punya rencana jangka panjang, target yang akan dituju, serta menempatkan positioning di pasar,” jelas Anas.

Sukses di bisnis travel, rupanya membuat Anas ingin kembali membuka bisnis baru. Ia pun membuat beberapa usaha baru seperti furniture, asuransi, agen oli, serta menjadi pengusaha emas. Menurutnya peluang yang ada dan dapat menghasilkan tak boleh disia-siakan, selama masih bisa dijalankan dan memberi keuntungan tak ada salahnya untuk membuka usaha baru.

“Tapi semuanya harus melengkapi, ada keuntungan yang dirasakan kita dan para pelanggan,” katanya.

Anas juga memberikan tips, untuk membuat usaha menjadi besar, jaringan pertemanan harus diperbanyak sebagai link untuk melakukan usaha. Selain itu, kerja keras dan kemauan yang kuat juga menjadi modal utama agar bisa menjadi sukses dalam berusaha.



Read Full Post »

Maju terus pantang mundur. Prinsip itu rupanya tak hanya berlaku ketika terjadi peperangan. Namun, semangat tersebut juga bisa diaplikasikan untuk menjalankan sebuah usaha. Ya, hal itulah yang diungkapkan pengusaha muda bernama Agus Imam Santosa ini.

Menurutnya, dalam menjalankan roda usaha pasti selalu ada hambatan yang menghalanginya. Tetapi dengan semangat maju terus pantang mundur, hal itu malah bisa dilewati dan dijadikan sebagai pembelajaran untuk melakukan langkah selanjutnya.

Faktor keluarga yang semuanya menjadi pebisnis rupanya mengalir ke darah Agus. Karena itu, ia pun bertekad untuk membuka usaha sendiri dibandingkan bekerja pada orang lain. Padahal, sebelumnya Agus juga sempat beberapa kali bekerja seperti menjadi entertainer, model, peragawan, bahkan juga sempat menjadi team leader salah satu produk rokok internasional.

Namun semua itu tak dijadikannya sebagai pegangan hidup. Beberapa kali bekerja di tempat lain tentunya memberikan hikmah tersendiri baginya sebagai pengalaman untuk membuka usaha sendiri. Dengan bermula menjadi karyawan, Agus jadi lebih mengerti apa yang diinginkan setiap kliennya.

“Pekerjaan sebelumnya menjadi modal untuk mengetahui bagaimana caranya membuat usaha sendiri yang lebih baik,” jelasnya.

Akhirnya, di tahun 2000, lelaki kelahiran 1975 ini memutuskan untuk membuka usaha di bidang kontraktor. Sebelumnya, ia pun menjadi pengusaha hotel yang merupakan turunan dari keluarganya. Dengan pengalaman yang dimiliki, Agus mampu mengembangkan usaha kontraktornya meningkat pesat. Ia berhasil mendapatkan tender-tender besar untuk dikelolanya.

Perputaran waktu terkadang membuatnya jenuh dalam menjalankan sebuah bisnis. Untuk itu ia punya cara agar bisnisnya tetap berjalan. Agus kembali membuat usaha lainnya yang bisa kembali ia kembangkan menjadi lebih maju. Agus pun membuka bisnis di bidang pengadaan serta jasa kurir.

“Memang kejenuhan terkadang hinggap dalam dunia usaha, tapi kita harus maju terus, untuk itu saya mencari cara agar kejenuhan tersebut tak menyebabkan usaha yang dikelola menjadi tak berputar lagi,” jelasnya.

Agus memang sangat fokus dalam menjalankan usahanya. Karena menurutnya, bisnis merupakan cara untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari hari ke harinya. Caranya, tentu dengan terus mengembangkan bisnis dengan semangat maju terus pantang mundur.

Read Full Post »

Bekerja keras untuk mencapai sesuatu yang diinginkan memang jadi sebuah keharusan. Apalagi ketika memulai usaha baru. Tentu, tak bisa berleha-leha untuk mengerjakannya karena harus memenuhi target yang diinginkan. Hal itulah yang dilakukan Adrilsyah Adnan saat memulai karirnya menjadi pengusaha.

Tahun 1997, Adril baru menyelesaikan kuliahnya di Bandung. Lelaki kelahiran Bukit Tinggi ini pun harus mulai mandiri. Apalagi ia memang merupakan seorang perantau dari seberang pulau. Otomatis, ia harus mencari cara untuk bisa bertahan hidup di Bandung.

Ia memulainya dengan menjadi broker sweater rajut di Bandung untuk di jual ke Jakarta. Dari Ibu Kota, ia datang kembali dengan membawa topi untuk di pasarkan di Bandung. Beberapa bulan kegiatan itu dilakukannya. Sebetulnya, untung yang ia ambil pun tidak banyak, karena pesanannya masih partai kecil.

“Dulu hanya untuk memenuhi kebutuhan saja, jadi mau gak mau harus dijalani,” ujar ayah yang memiliki tiga anak laki-laki ini.

Bisnis yang berawal dari kebutuhan itu pun berkembang menjadi usaha yang menguntungkan. Itu bermula dari Adril yang menemukan celah baru di dunia bisnis. Penjualan topi pun tak mengandalkan lagi produk asal Jakarta. Sedikit demi sedikit, ia membangun konveksi yang khusus membuat topi.

Setelah cukup berkembang, ia memberanikan diri membuka usahanya dalam bentuk toko di kawasan Parahyangan Plaza. Toko topi dengan merek dagang Warning ini pun cukup laku. Dari sana, ia pun mulai mengembangkan sayapnya dengan membuka produk baru. Di tahun 2000 ia pun menjadi pelopor bisnis pakaian distro di kawasan Parahyangan Plaza.

Adril pun mulai dengan membuat produk berupa kaos, tas, hingga apparel distro lainnya. Ia pun tak hanya membuka tokonya di Bandung. Untuk memperluas jaringan usahanya, Adril membuka clothingnya di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta serta Purwakarta.

Usahanya berjalan dengan lancar. Malah, ia kembali melebarkan sayapnya dengan membuat clothing dengan merek baru yaitu 74 yang diambil dari tahun kelahirannya. Warning pun berpindah tempat, dan toko yang ada di Parahyangan dijadikan clothing 74.

Dari sana, usahanya kian meningkat. Ia kembali membuka merek baru yaitu Magma dan Camo. Sebetulnya, semua merek milik Adril itu bergerak di bidang yang sama. Cuma, ia pintar memanfaatkan segmentasi pasar yang terbagi jadi beberapa macam.

“Tiap merek punya kelas masing-masing, ada buat remaja, pemusik, atau juga Abg,” ujarnya.

Saat ini, ia juga jadi pemasok bahan untuk beberapa distro di Bandung. Awalnya memang ia belanja hanya untuk keperluan clothingnya. Tapi, karena ada permintaan dari rekanan bisnisnya, Adril pun memulai usaha barunya untuk menjual bahan.

Kini, lelaki yang asalnya mondar-mandir Bandung Jakarta untuk mencari tambahan kebutuhan hidup sudah tinggal menikmati hasilnya. Malah, ia pun ikut membuka peluang kerja baru dengan puluhan karyawan serta vendornya. Ia pun mengatakan jika kunci keberhasilannya adalah berani menghadapi perubahan di dunia bisnis.

“Kita tak boleh terus terpaku, tapi harus selalu mengikuti apa keinginan pasar, dan kita harus berani menghadapi perubahan yang sewaktu-waktu terus terjadi, caranya tentu dengan membuat inovasi baru,” paparnya.

Read Full Post »

Bisnis toko buku dan toko swalayan milik Yaslinur, alumnus Fakultas Peternakan IPB, yang ada di Bogor, Bandung, Jakarta dan Lampung mungkin belum setenar dan sebesar toko buku Gramedia atau toko swalayan Yogya. Namun yang unik dan berbeda adalah upaya pria kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat pada tahun 1968 ini untuk mendapatkan modal ketika memulai usaha, yakni dengan konsep syariah.

Pemicunya adalah terhentinya bantuan biaya kuliah dari sang paman sebesar Rp 60 ribu per bulan. Lantas, Yas pun mencoba menyambung hidup mulai dari berdagang kaos kaki, menjadi penjaga masjid kampus IPB, berjualan buku di masjid, sampai memasok beras untuk warung nasi.

Kesulitan mengembangkan usaha karena kekurangan modal mendorong Yas membuat proposal untuk membuka toko buku dan busana muslim dengan sistem bagi hasil atau mudharabah. Dalam sistem bagi hasil ini satu pihak murni bertindak sebagai pemilik modal dan pihak lain menjadi pengelola, lalu hasil usaha dibagi sesuai dengan kesepakatan.

Proposal bisnis yang membutuhkan dana Rp 12 juta itu membahas soal bunga dan analisis kelayakan usaha ditinjau dari sisi keuangan, teknis dan sosial budaya. Sepuluh proposal itu dikirimkannya ke beberapa orang berduit di Jakarta dan Bogor. Sayang, sambutan yang diterimanya tak sesuai dengan harapan. Ia cuma berhasil mendapatkan dana pinjaman satu juta rupiah sehingga ditambah dengan modalnya sendiri menjadi Rp 1,46 juta.

Yas kemudian merubah taktik, sasaran proposal adalah penerbit buku Islam dan pengusaha busana muslim untuk mendapatkan pasokan barang dengan sistem konsinyasi. Usaha ini berhasil menarik satu penerbit dan satu pengusaha konveksi yang bersedia memasok barang, sisanya Yas harus membeli barang dengan sistem putus.

Akhirnya, Juni 1991 Yas mulai membangun toko berukuran 3×4 meter yang dikontraknya seharga Rp 1 Juta di Jl. Otista, Bogor. Toko yang dinamainya “Al-Amin” itu baru kedatangan pembeli setelah dua minggu dibuka, sampai akhirnya mulai menuai Rp 40 ribu per hari.

Tiga bulan kemuadian Yas mulai melebarkan sayap dengan membuka toko lain di Jakarta, Bandung dan Bogor. Omzetnya melonjak menjadi Rp 400 ribu per hari. Kesuksesannya banyak mendapatkan tawaran kerjasama dan bantuan modal. Berikutnya, Yas membuka toko swalayan yang secara khusus
dikembangkan di tingkat kecamatan dan ditujukan untuk membantu masyarakat miskin memperoleh barang dengan harga miring. Kini Yas memiliki tiga toko buku dan empat swalaan dengan total 120 karyawan dan omzet usahanya bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Untuk mengembangkan usahanya itu Yas mencari mitra bisnis dengan menawarkan konsep sirkah atau musarokah. Maksudnya, satu pihak sebagai pemilik modal, pihak lain bertindak sebagai pengelola, namun pengelola juga bisa ikut menanamkan modal dan sebaliknya. Lantas keuntungan usahanya dibagi berdasarkan persentase.

Sejak ditawarkan pada tahun 1997, Yas sudah berhasil mengajak lebih dari 700 orang menjadi anggota syirkah dengan penyertaan modal minimal Rp 100 ribu. Dan Andapun bisa meniru cara Yas untuk mencari modal usaha.

.

Tulisan Terkait :

Read Full Post »

Timothy Siddik (Zyrex)Anda kenal komputer merek Zyrex? diantara membanjirnya komputer “jangkrik”, nama Zyrex terdengar seperti komputer branded macam IBM, Compaq-Hewllet Packard atau Acer. Tapi siapa sangka kalau Zyrex ternyata lahir dari Pengusaha lokal bernama Timothy Siddik. Sebelumnya, lulusan ilmu komputer dan matematika University of California itu selama tujuh tahun meniti karir di berbagai perusahaan Amerika Serikat. Terakhir, jabatan Vice President Business Development JTC Spacenet disandangnya.Ketika itu berbagai fasilitas dan penghasilan 50 ribu dolar AS per tahun ditingggalkannya demi impian membuka usaha sendiri di tanah air. Timothy memiliki usaha software komputer karena saat itu di tahun 1990-an di bidang Teknologi Informasi (TI) mulai berkembang. Di bawah bendera PT Bhinexcom Interdata yang didirikan dengan modal 10 juta dan tiga karyawan, pria kelahiran Medan Desember 1961 itu juga mengerjakan instalasi jaringan lokal dan jasa konsultasi. Perlahan-lahan, meski order pembuatan perangkat lunak tidak terlalu besar karena banyak perusahaan belum membutuhkan TI, bisnisnya semakin berkembang setelah mendapat kepercayaan sebagai dealer beberapa merek komputer.Namun, justru setelah mendapat kepercayaan sekitar tahun 1995 itulah Timothy menangkap peluang bisnis yang lebih cerah. Ia semakin sadar bahwa konsumen komputer di Indonesia banyak “dikadali”, dan cuma dijadikan tempat sampah. Teknologi dan perangkat keras komputer yang sudah ketinggalan zaman di negeri asalnya baru dimasukkan ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga di negara lain.

Lantas, Timothy mendirikan pabrik perakitan komputer di Taiwan yang industri TI-nya berkembang pesat. Pemilihan lokasi Taiwan bukan latah atau
gengsi-gensian, tapi karena faktor keterampilan tenaga kerja dan harga komponen yang lebih murah sehingga produksi komputer pun bisa lebih efisien. September 1996, pabrik bisa merakit 1000 unit komputer pribadi (PC) dan langsung habis terjual di Indonesia dalam tempo dua bulan. Pasalnya, saat itu Timothy memang menawarkan komputer dengan teknologi yang lebih maju ketimbang komputer yang beredar di pasaran lokal. Zyrex sudah mengusung processor Pentium 1 sementara PC yang ramai dijual di Indonesia masih tipe 486.

Meski praktek yang dilakukan Timothy tidak berbeda dengan yang dilakukan pedagang komputer Mangga Dua yakni sekedar merakit PC dengan sistem multisourcing, namun Timothy menawarkan banyak kelebihan kepada konsumennya. Sejak hari pertama sudah ada bagian customer service yang melayani purna jual dan keluhan konsumen. Disamping itu, Zyrex hanya menggunakan komponen kelas utama di dalam komputernya.

Dalam urusan komponen, Timothy berusaha menembus langsung produsennya, seperti Intel, Seagate, dan Microsoft. Untuk meraih kepercayaan dan hubungan langsung dengan pemain industri komputer kelas dunia itu, Timothy memaparkan bagaimana prospek pasar TI Indonesia yang besar. Pasokan komponen bukan dari tangan kedua itulah yang juga membuat komputer Zyrex unggul dengan teknologi paling mutakhir dan bisa memberikan harga yang lebih kompetitif dibandingkan komputer branded impor maupun komputer jangkrik lokal sekalipun. Ketika processor atau perangkat keras terbaru diluncurkan di negara asalnya, seperti Pentium 4 diperkenalkan di Amerika, Timothy sudah bisa meluncurkan barang yang sama dalam hitungan hari.

.

Tulisan Terkait :

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.