Feeds:
Pos
Komentar

Carrefour

Carrefour adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang retail dan membangun ratusan pasar swalayan di seluruh dunia. Perusahaan ini berasal dari benua Eropa, tepatnya negara Perancis. Carrefour menjadi perusahaan retail terbesar nomor dua setelah Wal Mart. Perusahaan ini didirikan oleh Marcel Fournier dan Denis Defforey pada tahun 1957. Secara resmi pasar swalayan Carrefour pertama kali beroperasi pada tanggal 3 Juni 1957 di pinggir kota Annecy, Perancis. Pasar swalayan pertama ini ukurannya masih terbilang kecil, bahkan gerai ini adalah gerai terkecil diantara gerai-gerai Carrefour yang lain di seluruh dunia. Meskipun begitu, pembukaan pasar swalayan pertama itu membuahkan hasil yang baik. Respon masyarakat Perancis ketika itu pun sangat antusias menanggapinya.

Perkembangan bisnis Carrefour yang bagus itu membuat perusahaan ini mampu mendirikan hypermarket dalam waktu relatif cepat. Hypermarket Carrefour yang pertama diresmikan pada tanggal 15 Juni 1963, kurang lebih enam tahun setelah pendirian perusahaan Carrefour. Semakin hari perkembangan bisnis Carrefour terlihat semakin tumbuh dan memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Salah satu faktor utama perkembangan ini adalah manajemen bisnis yang baik yang diterapkan oleh Carrefour. Oleh karena itu sangat wajar bila dalam jangka waktu relatif singkat, gerai Carrefour tumbuh di mana-mana. Hypermarket Carrefour telah tersebar ke seluruh pelosok dunia, mulai dari benua Eropa hingga ke Asia. Bahkan bisnis retail ini telah menjamur di Indonesia, di kota besar dan kota kecil lainnya. Selain bisnis pasar swalayan, perusahaan Carrefour yang berkantor pusat di Levallois-Perret, Perancis ini juga menjalankan bisnis di bidang optik, farmasi, pakaian, dan kosmetik.

Perusahaan Carrefour masuk dan mulai menjalankan bisnisnya di Indonesia pada tahun 1998. Di Indonesia bisnis Carrefour di bawah tanggung jawab PT Carrefour Indonesia. Pada bulan Oktober tahun itu, berdiri hypermarket Carrefour yang pertama di Jakarta. Krisis ekonomi yang menerpa Indonesia sepertinya tidak terlalu berdampak negatif pada perusahaan ini. Kekuatan modal dari perusahaan induk merupakan salah satu faktor utama yang membuat Carrefour dapat bertahan saat itu. Hingga kini telah terdapat lebih dari 40 hypermarket Carrefour yang tersebar di berbagai kota yaitu Jakarta, Bandung, Bekasi, Bogor, Denpasar, Makasar, Medan, Palembang, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Tetapi jika digabung dengan toko atau gerai kecil Carrefour, maka terdapat lebih dari 60 gerai yang tersebar di berbagai kota.

Perusahaan yang memiliki lebih dari 11.000 tenaga kerja di Indonesia ini akan terus menambah jumlah tenaga kerjanya seiring dengan penambahan gerainya. Sebagai perusahaan retail yang telah terkenal di Indonesia, Carrefour tidak hanya antusias dalam membuka gerai hypermarket saja, tetapi juga melakukan strategi pemasaran supaya dapat terus menarik konsumen dan mendapatkan keuntungan yang besar. Carrefour tidak pernah berhenti untuk berpromosi di setiap kesempatan seperti menjadi sponsor dalam berbagai event ataupun mengadakan event itu sendiri. Selain itu, perusahaan ini juga membangun sebuah institusi penelitian bernama Institut Carrefour Indonesia. Institut pelatihan Carrefour yang terbesar di Asia ini diresmikan pada tanggal 22 September 2008. Institut ini dibangun untuk melatih sumber daya manusia Carrefour mulai dari direktur, manajer, hingga tenaga kerja level bawah lainnya.

Hal yang menarik dari Carrefour adalah harga yang miring, produk yang bermacam-macam, dan tempat yang nyaman. Ketiga faktor utama inilah yang membuat para konsumen sering datang ke Carrefour untuk berbelanja. Di antara ketiga faktor tersebut yang paling menonjol adalah tersedianya berbagai macam produk, mulai dari barang kebutuhan rumah tangga hingga barang-barang mewah berteknologi tinggi, dari produk kebutuhan bayi hingga produk kebutuhan lansia, semuanya ada di hypermarket Carrefour. Bahkan pulsa telepon seluler dari berbagai provider dan tiket pesawat juga disediakan di hypermarket ini.

Namun di sisi lain, sepak terjang Carrefour memberikan dampak negatif bagi para distributor dan pebisnis retail khususnya retail kelas menengah ke bawah. Pasalnya Carrefour telah memutus rantai distribusi produk karena langsung mendistribusikan produk dari produsen ke konsumen. Ini akan menyingkirkan para distributor dari jalur distribusi yang ada. Kehadiran Carrefour yang semakin kuat juga membuat para pebisnis retail lainnya mengalami penurunan keuntungan yang drastis, bahkan beberapa di antaranya terancam bangkrut. Hal ini disebabkan para pebisnis retail skala menengah ke bawah itu kalah bersaing dengan Carrefour yang semula menjalankan bisnis retail di skala yang paling besar yaitu hypermarket.

Dell Incorporation


Dell adalah salah satu perusahaan perangkat keras komputer ternama dunia. Perusahaan ini menjual PC (personal computer), laptop, monitor, dan barang elektronik lainnya. Perusahaan ini didirikan oleh Michael Dell asal Amerika Serikat pada tahun 1984 dengan modal yang tidak besar. Hanya dengan modal 1.000 dolar, Michael berani mendirikan perusahaan komputer ini dengan nama PC Limited. Rintisan bisnis komputer ini pertama kali ia lakukan saat masih berada di bangku kuliah di Universitas Texas. Sambil berkuliah, ia menjajakan dan menjual komputer langsung kepada konsumen akhir. Namun, statusnya sebagai mahasiswa tidak berlangsung lama. Michael memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus pada bisnis yang sedang dijalankannya. Hal ini dilakukannya supaya bisnisnya dapat dikelola dengan waktu penuh sehingga berkembang dengan cepat. Oleh karena itu, Michael berani meminjam uang sebesar 300.000 dolar kepada keluarganya sebagai modal tambahan untuk memajukan perusahaan komputer yang baru dirintisnya.

Pada tahun pertamanya, PC Limited telah mampu menjual banyak komputer senilai 73 juta dolar. Pendapatan yang cukup mengagumkan ini adalah bukti awal dari imperium bisnis Michael Dell di dunia perangkat keras komputer. Setahun setelah pendiriannya, PC Limited mulai mencoba memproduksi komputer dengan desain sendiri. Produk komputer dengan design sendiri ini memiliki brand “Turbo PC” dan dijual dengan harga 795 dolar per unit. Penjualan komputer perdana dari PC Limited ini menuai hasil yang cukup memuaskan. Sejak saat ini, konsumen mulai banyak yang tertarik dengan produk-produk PC Limited. Selain itu, langkah untuk memproduksi komputer dengan brand sendiri membuat perusahaan ini semakin dilirik pemodal dan pebisnis komputer lainnya. Mereka tidak bisa memandang sebelah mata terhadap sepak terjang bisnis Michael Dell. Sebagian pebisnis menganggap PC Limited sebagai partner yang dapat diajak kerjasama, sebagian lain menganggap PC Limited merupakan pesaing yang harus diwaspadai.


Kemudian pada tahun 1988, PC Limited berganti nama menjadi Dell Computer Corporation (DCC). Semakin hari sepak terjang perusahaan ini begitu terlihat mengagumkan. Perkembangan kinerja dan produk dengan nama baru DCC ini juga semakin baik. Di samping itu tentu saja Michael Dell mendapatkan keuntungan yang sangat bagus dari bisnisnya ini. Suatu hal yang wajar bila keberhasilan ini menarik perhatian banyak pihak termasuk media massa. Pada tahun 1992, majalah Fortune memperhatikan perusahaan ini dengan seksama. Pada tahun tersebut, majalah ini memasukkan DCC ke dalam daftar 500 perusahaan terbesar di dunia. Liputan media massa ini memberikan tambahan keuntungan tersendiri bagi perusahaan maupun sosok Michael Dell. Liputan majalah Fortune tersebut semakin mengangkat pamor Michael bersama dengan perusahaannya.


Namun demikian, sorotan media massa ini bukan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi DCC. Apapun yang terjadi, Michael harus tetap mengembangkan perusahaannya dengan cara seperti seorang pebisnis, bukan artis. Baginya, tujuan terpenting adalah bagaimana menjadikan DCC sebagai perusahaan komputer nomor satu di dunia. Ambisi ini sudah mulai dibuktikannya pada tahun 1999 silam dengan mengambil alih perusahaan komputer Compaq, pesaingnya selama ini. Pengambilalihan ini membuat DCC menjadi perusahaan penjual komputer desktop terbesar di Amerika Serikat dengan nilai pendapatan sebesar 25 milyar dolar di bulan Januari 2000. Meski hanya bertaraf lokal, tetapi itu adalah prestasi yang mengagumkan. Prestasi tersebut juga menambah motivasi perusahaan ini untuk dapat menjadi lebih baik lagi. Prestasi tersebut semakin menguatkan DCC untuk menjadi perusahaan komputer nomor satu di jagad ini.


Pada tahun 2003, para pemegang saham sepakat untuk mengganti nama perusahaan menjadi Dell Incorporation (Dell Inc) dan sering disingkat dengan perusahaan Dell saja. Perubahan nama ini tidak membuat Dell kehilangan kepiawaiannya bergelut di bidang bisnis teknologi komputer. Justru sebaliknya, Dell memiliki prestasi yang semakin baik dari tahun ke tahun. Hal ini terbukti dengan hasil penilaian beberapa media massa, salah satunya adalah media cetak bernama majalah Fortune. Bila dahulu majalah ini memasukkan Dell ke dalam daftar 500 perusahaan terbaik, kali ini majalah Fortune menilai Dell dengan jauh lebih baik. Dalam survei majalah tersebut, Dell menempati urutan pertama dalam daftar “Perusahaan Paling Mengagumkan” pada tahun 2005. Setahun setelah itu, tepatnya pertengahan tahun 2006, Dell berhasil merebut pangsa pasar komputer sebesar 19% dari seluruh pangsa pasar komputer seluruh dunia. Presentase itu lebih tinggi dari presentase yang didapat oleh perusahaan komputer Hewlett-Packard (HP). Perusahaan pesaing Dell ini hanya mendapat 15% dari seluruh pangsa pasar komputer yang ada.


Akhir tahun 2006, Dell mengumumkan akan mengganti prosesor intel dengan prosesor AMD dalam setiap produk yang akan diluncurkannya. Sebelumnya Dell memang konsisten menggunakan prosesor dengan brand Intel. Setelah tahun 2006 itu, Dell tidak hanya akan menggunakan prosesor AMD saja, lebih jauh lagi Dell berencana akan terus melakukan penelitian dan pengembangan prosesor AMD untuk meningkatkan kinerja dan performa prosesor tersebut sehingga dapat bersaing di pasar internasional.


Kini, Dell yang berkantor pusat di Round Rock, Texas itu mengaku telah mempekerjakan kurang lebih 82.700 karyawan yang tersebar di berbagai negara. Termasuk dalam jumlah tersebut para pejabat tinggi perusahaan dan para peneliti yang bekerja untuk Dell. Selain komputer desktop dan laptop (notebook), Dell juga menjual perangkat keras lainnya seperti server, memori penyimpan data, perangkat lunak (software), televisi LCD, TV Plasma, proyektor, monitor, dan lain-lain. Penjualan berbagai produk ini diambil sebagai langkah diversifikasi produk yang ditempuh oleh Dell. Setiap produk yang dikeluarkan oleh Dell memiliki brand berbeda sesuai dengan segmen pasar yang dituju. Segmen pasar dan produk yang dikeluarkan di antaranya:


1. Segmen bisnis atau perusahaan. Segmen ini mempunyai slogan tahan lama, tahan uji, dan pelayanan yang baik. Produk-produk pada segmen ini yaitu:

  • OptiPlex – komputer desktop untuk kantor perusahaan besar
  • Vostro – notebook dan desktop untuk bisnis kecil
  • n Series – komputer desktop dan notebook dengan sistem operasi Linux atau FreeDOS
  • Latitude – notebook khusus komersial
  • Precision – notebook dengan sistem stasiun kerja (workstation) dan performa tinggi
  • PowerEdge – server untuk bisnis
  • PowerVault – Network-Attached Storage (NAS)
  • PowerConnect – switch jaringan
  • Dell EMC – Storage Area Networks (SANs)


2. Segmen konsumen tunggal (kantor dan rumahan). Segmen ini menekankan pada harga, performa, dan pengembangan (upgrade). Produk-produk pada segmen ini yaitu:

  • Inspiron – laptop dan desktop
  • Studio – laptop dan desktop hibrida
  • XPS – laptop dengan performa tinggi
  • Studio XPS – sistem dengan kapasitas multimedia
  • Alienware (XPS Extreme) – performa tinggi untuk permainan (games)

Seperti diketahui, sepak terjang bisnis Dell juga telah sampai ke seluruh benua termasuk Asia. Apalagi wilayah Asia merupakan pasar yang sangat potensial bagi produk berteknologi serupa Dell. Jumlah penduduk yang besar dan sifat konsumtif masyarakatnya, membuat Asia menjadi pasar utama bagi produk-produk Dell. Negara yang pertama kali dijadikan kepanjangan tangan perusahaan ini adalah negara Malaysia. Di negara rumpun melayu ini, Dell membangun kantor cabang dan pabrik di kota Penang pada tahun 1995. Lewat negara Malaysia, Dell berusaha melayani permintaan konsumen yang ada di wilayah Asia Pasifik. Semua yang berhubungan dengan produk-produk Dell untuk Asia Pasifik dikendalikan di sini.


Ternyata masyarakat Asia Pasifik memberikan respon yang cukup baik terhadap produk-produk buatan Dell. Permintaan terhadap produk-produk Dell pun kian tahun kian meningkat. Permintaan konsumen yang terus bertambah ini membuat Dell harus membuka kantor dan pabrik yang dapat membantu kantor dan pabrik yang ada di Malaysia. Oleh karena itu pada tahun 1999, perusahaan Dell membangun kantor cabang dan pabrik yang baru di kota Xiamen, China. Selanjutnya perusahaan Dell di kedua negara ini melayani pasar wilayah Asia. Semua produk Dell yang tersebar di negara-negara Asia termasuk Indonesia, didatangkan dari kedua negara tersebut. Terkadang juga didatangkan dari Amerika atau Eropa melalui perusahaan Dell di kedua negara itu, kemudian masuk ke negara-negara Asia lainnya.


Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang paling diincar oleh Dell karena jumlah penduduknya yang besar dan kebutuhan teknologi komputer yang masih tinggi di negara ini. Hal ini ditegaskan langsung oleh Presiden perusahaan Dell, Steve Felice yang mengatakan bahwa Indonesia adalah kunci bagi perkembangan dan kemajuan Dell di Asia. Dell melihat jumlah penduduk di negara ini hampir setara dengan jumlah populasi di benua Eropa. Dengan demikian, negara ini masih menjadi pasar yang menjanjikan bagi produk-produk Dell.


Ketika datang ke Indonesia, Dell langsung mengincar dan menggenjot penjualan di segmen pasar korporasi (perusahaan). Produk-produk Dell yang ditawarkan di Indonesia meliputi server, memori, laptop, komputer desktop, software, dan sebagainya. Strategi ini ternyata sangat jitu dalam menguasai pangsa pasar yang besar di Indonesia. Awal tahun 2008, Dell mampu merebut 24% pangsa pasar korporasi yang membuatnya menjadi pemimpin pada segmen ini.


Pertumbuhan bisnis Dell di Indonesia juga sangat baik, bahkan mengungguli pertumbuhan bisnisnya di negara-negara Asia Pasifik yang lain. Sampai saat ini Dell telah mendirikan kurang lebih 8 kantor pemasaran yang tersebar di berbagai kota, dengan kantor pemasaran terbaru di Jakarta pada tahun 2008.

Pengalaman akan membuat kita lebih kuat dalam melakukan sebuah usaha. Maksudnya, dengan ilmu yang dimiliki, sebuah usaha akan berjalan dengan lebih mudah. Hal itu diungkapkan Rizal Zainuddin yang menyarankan agar bekerja di bidang ilmu yang akan dijadikan sebuah usaha.

“Dengan bekal dan ilmu yang ada, tentunya kita bisa lebih mengetahui apa saja yang akan dilakukan ketika menjalankan sebuah bisnis,” ujar pengusaha muda asal Jakarta ini.

Kondisi itu memang dialami sendiri oleh Rizal. Ia yang tinggal di Australia untuk merajut jenjang pendidikan ini mulai terjun ke dunia yang ingin ditekuninya sejak masih sekolah. Di saat kuliah, ia coba-coba untuk terjun di dunia broadcast. Rupanya, dari coba-coba inilah ia menemukan jawaban dari apa usaha yang bakal dijalankannya usai lulus sekolah.

Rizal pun mencoba mengasah kemampuan broadcastnya dengan berbagai cara seperti membuat film pendek, opening bumper, sampai membuat video klip. Usai kuliah, ia pun merasa memiliki cukup pengalaman untuk melanjutkan karirnya. Namun, ia belum memilih untuk membuka usaha sendiri.

Di tahun 2002, Rizal kembali mencari pengalaman dengan bekerja di bidang yang ingin digelutinya. Lelaki kelahiran 1980 ini memulainya dengan merambah Event Organizer, Production House hingga masuk di produksi acara televisi. Setelah beberapa lama “mencuri” ilmu dari pekerjaaannya ia pun memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Rizal pun membuka usaha sendiri yang bergerak di bidang production house. Pekerjaan terakhirnya di televisi pun ia tinggalkan untuk fokus ke usaha barunya. Awal usaha memang tak selalu berjalan mulus, meski pengalaman yang dimiliki sudah ada, tetapi hambatan selalu saja datang.

“Bahkan saya sempat terjatuh dalam berbisnis, tapi dengan bekal yang dimiliki membuat saya bisa menghadapi tantangan tersebut dan kembali bangkit untuk melanjutkan usaha,” paparnya.

Kini usaha production house yang berada di bilangan Rawamangun, Jakarta ini sudah mulai berjalan dengan lancar. Tak sia-sia Rizal merintisnya karena dari bidang inilah ia bisa mendapatkan ilmu dalam menjalankan bisnis.

Selain itu, Rizal pun kini mulai tertarik dengan Mobile Media. Teknologi terbaru ini pun kini sedang dipelajarinya. Ia pun bekerja di perusahaan bernama Snoop. Sambil berenang minum air, ia bekerja sekaligus mendapat ilmu baru untuk kembali menjalankan bisnis.

“Yang terpenting dalam bisnis adalah tanpa adanya paksaan dari orang lain, dan datang dari diri sendiri,” katanya.

Sabar sepertinya menjadi salah satu kunci dalam menggapai kesuksesan di dunia bisnis. Hal itu dibuktikan oleh Sweeta Bob Gurbani yang dengan tekun menjalankan usahanya, kendati beberapa cobaan menghampirinya.

Perempuan asal India ini memang harus terjun di dunia bisnis di usia 17 tahun. Di usia itu, ia sudah menikah dengan sang suami. Tak ingin berdiam diri, Sweeta pun ikut membantu usaha suaminya yang memiliki usaha tekstil yang kala itu cukup terkenal yaitu Kisstex Taylor.

“Di taylor suami, banyak artis yang membuat pakaian, karena kami memang menjaga kualitas,” ujarnya mengenang.

Namun, bukan berarti ia juga tak ingin hanya mengikuti jejak kesuksesan suami. Sweeta berniat mandiri dan membuka usaha baru. Setelah dua tahun belajar dari perusahaan taylornya, di tahun 1976 ia membuka butik. Ketika itu, ia menjadi salah satu pelopor butik di Kota Kembang.

“Barangnya saya dapatkan dari Singapore dan Hongkong,” jelasnya.

Waktu itu, Kings jadi tempat ia membuka usahanya. Sweets Boutique yang dikelolanya cukup punya nama. Terbukti, banyak artis terkenal pada masa itu yang berbelanja di butiknya. Sayang, usaha butik harus ia hentikan di tahun 1978. Alasannya, barang dari China sudah banyak masuk.

“Banyak tempat yang menjual berbagai produk dari China yang harganya jauh lebih murah,” tambah ibu tiga anak ini.

Tetapi, ia tak perlu larut dalam bisnisnya yang harus berhenti. Ia kembali membuka usaha baru. Kali ini, gift seperti kartu ucapan selamat dan berbagai aksesoris hadiah jadi pilihannya. Selain itu ia juga menyediakan sepatu, parfum, tas serta produk lainnya. Saat itu juga ia mulai merintis usaha di bidang poster.

Hingga tahun 1989, bencana menimpa bisnisnya. Ketika itu, Sweeta baru pindah lokasi usahanya, walaupun masih sama di Kings. Namun, kondisi itu membuatnya belum sempat untuk mengasuransikan tempat usahanya. Dan di tanggal 17 Agustus 1989, Kings pun ludes dilalap si jago merah. Semua barang dagangan miliknya pun hilang tak bersisa.

“Tentu saja sangat sedih, saya merintis usaha itu dari nol, namun setelah semua orang mengenalnya, malah habis tak bersisa,” kenangnya.

Ia pun sempat terpukul dan kebingungan untuk memilih usaha baru. Hingga di bulan Oktober 1989, ia ditawari membuka toko di jalan Braga. Saat itu ia mulai fokus dengan usaha poster dan gift serta kartu. Ia kembali menggunakan nama Black Cat sebagai brand usahanya.

“Saya menjadi agen untuk beberapa produk dari berbagai negara seperti Swedia, Holland, Jepang dan California,” jelasnya.

Hingga di tahun 2000, ia merasa jalan Braga sudah tak tepat sasaran. Karena fungsinya sudah berubah dengan banyaknya tempat hiburan malam. Ia pun memutuskan untuk meneruskan Black Cat di rumahnya di bilangan Hegar Manah. Selain itu, ia pun sengaja mengirim tiga anaknya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah sekaligus membuka cabang di Ibu Kota.

Sweeta pun cukup disibukkan dengan jadwalnya yang harus bolak-balik Bandung – Jakarta untuk mengurus dua tempat usahanya. Rupanya, kesabaran memang bisa memberikan hasil maksimal jika terus menekuninya. Bahkan kini ia memindahkan kembali lokasi usahanya ke tempat yang lebih strategis di bilangan Setia Budhi.

“Selain harus fokus dan sabar, kami juga tak pernah menganggap konsumen sebagai orang lain, tapi jadikanlah mereka sebagai sahabat, sehingga mereka bisa lebih percaya,” tambah perempuan yang menguasai lima bahasa ini.

Bahkan, ia dan suaminya pun bisa membuat bisnis yang lain karena telah menciptakan frame poster tanpa sambungan yang sudah menjadi trademark dari Black Cat.

Jatuh bangun saat memulai sebuah usaha terkadang hinggap pada para pengusaha baru. Namun, janganlah menjadikan hal itu sebagai batu penghalang, justru kejadian tersebut harus diambil hikmahnya untuk menjadi pelajaran dalam memulai bisnis baru.

Hal itu diutarakan pengusaha asal Banda Aceh, Anas Zulham. Ia mengakui, beberapa kejadian yang membuat usahanya gulung tikar pernah dirasakannya. Tetapi, keinginan yang kuat untuk menjadi pengusaha mandiri membuatnya tetap tegar dan kembali bangun untuk menyusun rencana bisnis yang akan digeluti lagi.

Semenjak kuliah, Anas memang sudah memutuskan masa depannya untuk menjadi pengusaha. Ia pun mulai merintis dengan bisnis event organizer. Usai kuliah usaha EO ia tinggalkan karena harus pulang kampung ke Aceh. Nah, perjalanan karirnya dimulai disini.

Anas sempat membuka usaha dengan berjualan bakso. Sayangnya, usaha itu hanya berjalan sekitar satu tahun. Anas kembali mencari bisnis baru, ia mulai mendalami bisnis kontraktor. Selain itu, ia pun membuka café di kota Medan, lagi-lagi usaha di bidang makanan ini kembali bangkrut. Tetapi kontraktor tetap ia jalankan.

Sambil menggeluti kontraktor, Anas kembali membuka usaha lainnya. Kali ini ia memilih usaha di bidang ISP (Internet Service Provider), tapi bisnisnya ini kembali kandas dan harus ditutup. Namun, Anas rupanya belum menyerah untuk membuka lapak baru. Ia pun mencoba usaha impor semen dari Malaysia, lagi-lagi bisnisnya tak bertahan lama dan harus gulung tikar kembali.

“Dari kegagalan–kegagalan itulah saya belajar membuka usaha baru lainnya, dan dengan pengalaman yang ada akhirnya saya bisa eksis menjalankan beberapa usaha,” jelas Anas.

Setelah itu, Anas mulai membuka usaha di bidang travel. Usaha inilah yang membuatnya maju dan terus berkembang. Menurutnya, travel merupakan usaha yang sangat fleksible. Kendati demikian, tetap harus memiliki skill dan kemampuan dalam mengelola dan mengembangkannya.

“Kita tetap harus punya rencana jangka panjang, target yang akan dituju, serta menempatkan positioning di pasar,” jelas Anas.

Sukses di bisnis travel, rupanya membuat Anas ingin kembali membuka bisnis baru. Ia pun membuat beberapa usaha baru seperti furniture, asuransi, agen oli, serta menjadi pengusaha emas. Menurutnya peluang yang ada dan dapat menghasilkan tak boleh disia-siakan, selama masih bisa dijalankan dan memberi keuntungan tak ada salahnya untuk membuka usaha baru.

“Tapi semuanya harus melengkapi, ada keuntungan yang dirasakan kita dan para pelanggan,” katanya.

Anas juga memberikan tips, untuk membuat usaha menjadi besar, jaringan pertemanan harus diperbanyak sebagai link untuk melakukan usaha. Selain itu, kerja keras dan kemauan yang kuat juga menjadi modal utama agar bisa menjadi sukses dalam berusaha.



Maju terus pantang mundur. Prinsip itu rupanya tak hanya berlaku ketika terjadi peperangan. Namun, semangat tersebut juga bisa diaplikasikan untuk menjalankan sebuah usaha. Ya, hal itulah yang diungkapkan pengusaha muda bernama Agus Imam Santosa ini.

Menurutnya, dalam menjalankan roda usaha pasti selalu ada hambatan yang menghalanginya. Tetapi dengan semangat maju terus pantang mundur, hal itu malah bisa dilewati dan dijadikan sebagai pembelajaran untuk melakukan langkah selanjutnya.

Faktor keluarga yang semuanya menjadi pebisnis rupanya mengalir ke darah Agus. Karena itu, ia pun bertekad untuk membuka usaha sendiri dibandingkan bekerja pada orang lain. Padahal, sebelumnya Agus juga sempat beberapa kali bekerja seperti menjadi entertainer, model, peragawan, bahkan juga sempat menjadi team leader salah satu produk rokok internasional.

Namun semua itu tak dijadikannya sebagai pegangan hidup. Beberapa kali bekerja di tempat lain tentunya memberikan hikmah tersendiri baginya sebagai pengalaman untuk membuka usaha sendiri. Dengan bermula menjadi karyawan, Agus jadi lebih mengerti apa yang diinginkan setiap kliennya.

“Pekerjaan sebelumnya menjadi modal untuk mengetahui bagaimana caranya membuat usaha sendiri yang lebih baik,” jelasnya.

Akhirnya, di tahun 2000, lelaki kelahiran 1975 ini memutuskan untuk membuka usaha di bidang kontraktor. Sebelumnya, ia pun menjadi pengusaha hotel yang merupakan turunan dari keluarganya. Dengan pengalaman yang dimiliki, Agus mampu mengembangkan usaha kontraktornya meningkat pesat. Ia berhasil mendapatkan tender-tender besar untuk dikelolanya.

Perputaran waktu terkadang membuatnya jenuh dalam menjalankan sebuah bisnis. Untuk itu ia punya cara agar bisnisnya tetap berjalan. Agus kembali membuat usaha lainnya yang bisa kembali ia kembangkan menjadi lebih maju. Agus pun membuka bisnis di bidang pengadaan serta jasa kurir.

“Memang kejenuhan terkadang hinggap dalam dunia usaha, tapi kita harus maju terus, untuk itu saya mencari cara agar kejenuhan tersebut tak menyebabkan usaha yang dikelola menjadi tak berputar lagi,” jelasnya.

Agus memang sangat fokus dalam menjalankan usahanya. Karena menurutnya, bisnis merupakan cara untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari hari ke harinya. Caranya, tentu dengan terus mengembangkan bisnis dengan semangat maju terus pantang mundur.

Bekerja keras untuk mencapai sesuatu yang diinginkan memang jadi sebuah keharusan. Apalagi ketika memulai usaha baru. Tentu, tak bisa berleha-leha untuk mengerjakannya karena harus memenuhi target yang diinginkan. Hal itulah yang dilakukan Adrilsyah Adnan saat memulai karirnya menjadi pengusaha.

Tahun 1997, Adril baru menyelesaikan kuliahnya di Bandung. Lelaki kelahiran Bukit Tinggi ini pun harus mulai mandiri. Apalagi ia memang merupakan seorang perantau dari seberang pulau. Otomatis, ia harus mencari cara untuk bisa bertahan hidup di Bandung.

Ia memulainya dengan menjadi broker sweater rajut di Bandung untuk di jual ke Jakarta. Dari Ibu Kota, ia datang kembali dengan membawa topi untuk di pasarkan di Bandung. Beberapa bulan kegiatan itu dilakukannya. Sebetulnya, untung yang ia ambil pun tidak banyak, karena pesanannya masih partai kecil.

“Dulu hanya untuk memenuhi kebutuhan saja, jadi mau gak mau harus dijalani,” ujar ayah yang memiliki tiga anak laki-laki ini.

Bisnis yang berawal dari kebutuhan itu pun berkembang menjadi usaha yang menguntungkan. Itu bermula dari Adril yang menemukan celah baru di dunia bisnis. Penjualan topi pun tak mengandalkan lagi produk asal Jakarta. Sedikit demi sedikit, ia membangun konveksi yang khusus membuat topi.

Setelah cukup berkembang, ia memberanikan diri membuka usahanya dalam bentuk toko di kawasan Parahyangan Plaza. Toko topi dengan merek dagang Warning ini pun cukup laku. Dari sana, ia pun mulai mengembangkan sayapnya dengan membuka produk baru. Di tahun 2000 ia pun menjadi pelopor bisnis pakaian distro di kawasan Parahyangan Plaza.

Adril pun mulai dengan membuat produk berupa kaos, tas, hingga apparel distro lainnya. Ia pun tak hanya membuka tokonya di Bandung. Untuk memperluas jaringan usahanya, Adril membuka clothingnya di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta serta Purwakarta.

Usahanya berjalan dengan lancar. Malah, ia kembali melebarkan sayapnya dengan membuat clothing dengan merek baru yaitu 74 yang diambil dari tahun kelahirannya. Warning pun berpindah tempat, dan toko yang ada di Parahyangan dijadikan clothing 74.

Dari sana, usahanya kian meningkat. Ia kembali membuka merek baru yaitu Magma dan Camo. Sebetulnya, semua merek milik Adril itu bergerak di bidang yang sama. Cuma, ia pintar memanfaatkan segmentasi pasar yang terbagi jadi beberapa macam.

“Tiap merek punya kelas masing-masing, ada buat remaja, pemusik, atau juga Abg,” ujarnya.

Saat ini, ia juga jadi pemasok bahan untuk beberapa distro di Bandung. Awalnya memang ia belanja hanya untuk keperluan clothingnya. Tapi, karena ada permintaan dari rekanan bisnisnya, Adril pun memulai usaha barunya untuk menjual bahan.

Kini, lelaki yang asalnya mondar-mandir Bandung Jakarta untuk mencari tambahan kebutuhan hidup sudah tinggal menikmati hasilnya. Malah, ia pun ikut membuka peluang kerja baru dengan puluhan karyawan serta vendornya. Ia pun mengatakan jika kunci keberhasilannya adalah berani menghadapi perubahan di dunia bisnis.

“Kita tak boleh terus terpaku, tapi harus selalu mengikuti apa keinginan pasar, dan kita harus berani menghadapi perubahan yang sewaktu-waktu terus terjadi, caranya tentu dengan membuat inovasi baru,” paparnya.